Palembang — Di tengah hiruk-pikuk Pasar Cinde Palembang, aroma rempah pernah menjadi saksi perjuangan sebuah usaha kecil keluarga. Bumbu Hikmah Fajar tidak lahir dari perencanaan besar atau modal melimpah, melainkan dari keberanian untuk berubah, konsistensi menjaga rasa, dan kemampuan membaca zaman.
Usaha ini dirintis almarhum H. Askar bersama Uni Cinde sejak 1970-an. Awalnya, mereka hanya menjual kelapa parut di sudut pasar. Penjualan yang berjalan lambat memaksa keduanya mencari cara bertahan. Dari pengamatan sederhana terhadap pedagang sekitar, muncul keputusan penting: beralih ke cabai giling dan bumbu masak.
Keputusan itu menjadi fondasi kuat bagi Hikmah Fajar. Berbekal pengalaman meracik bumbu khas Minang—warisan kampung halaman di Bukittinggi—mereka mulai menawarkan bumbu siap pakai kepada pelanggan pasar dan rumah makan. Perlahan tapi pasti, kepercayaan konsumen tumbuh.
Puluhan tahun kemudian, tongkat estafet berpindah ke generasi kedua. Di tangan Novia Ariani, Hikmah Fajar menghadapi tantangan baru dengan perubahan perilaku konsumen dan tuntutan era digital. Transformasi pun tak terelakkan.

Generasi Kedua, Novia Ariani bersama anak dan suaminya saat menceritakan Hikmah Fajar. Foto : Abdullah Toriq/Urban Id
Sejak 2016, Hikmah Fajar mulai berbenah. Bumbu yang sebelumnya dijual secara konvensional dikemas ulang dengan tampilan lebih modern tanpa mengorbankan rasa. Namun, jalan menuju perubahan tidak selalu mulus. Pengalaman pahit ditipu reseller justru menjadi titik balik yang menentukan arah masa depan usaha ini.
“Dari situ saya belajar, kalau ingin bertahan, harus menguasai sendiri cara berjualan,” ujar Novia.
Berbekal pembelajaran otodidak dari media sosial, Novia mulai memasarkan produknya secara mandiri di platform digital Shoppe. Langkah yang awalnya diliputi keraguan itu justru membuka pintu peluang baru. Penjualan meningkat, jangkauan meluas, dan bumbu Hikmah Fajar mulai dikenal di luar Palembang.
“Berawal ditipu reseller, akhirnya saya memutuskan untuk menjual sendiri produk Hikmah Fajar secara online. Secara otodidak saya belajar cara berjualan online di platform Shopee, awalnya dari cari informasi di media sosial (YouTube) terlebih dahulu,” jelas dia.
Kini, setiap hari ratusan kemasan bumbu berpindah tangan ke berbagai daerah di Indonesia. Dari dapur sederhana, aroma rendang, opor, hingga pindang Palembang menjangkau Kalimantan, Sulawesi, bahkan menyeberang benua.
“Saat ini dengan adanya penjualan online, saya dapat menjual 200-300 kemasan per hari. Jika digabung dengan penjualan offline bisa tembus 500 kemasan per hari. Penjualan online membantu menjangkau penjualan lebih luas,” ungkap dia.

Proses Packaging bumbu Hikmah Fajar. Foto : Abdullah Toriq
Tanpa disangka, pasar internasional pun terbuka. Lewat jaringan diaspora dan pelaku usaha kuliner, bumbu Hikmah Fajar sampai ke Amerika Serikat dan Australia. Konsumen tertarik bukan hanya karena kepraktisan, tetapi karena rasa yang konsisten dan autentik.
“Bumbu kami dibeli bukan sekadar produk, tapi untuk menghadirkan rasa rumah,” kata Novia.
Kini Hikmah Fajar telah memiliki tiga cabang di Palembang dan mulai menyasar pasar ritel. Menjelang Ramadan dan hari besar keagamaan, dapur produksi semakin sibuk. Puluhan kilogram bahan baku diolah setiap hari untuk memenuhi lonjakan permintaan.
Perjalanan Bumbu Hikmah Fajar bukan sekadar kisah sukses UMKM. Ia adalah cerita tentang keberanian beradaptasi, peran generasi muda dalam melanjutkan warisan, dan bagaimana teknologi mampu mengubah usaha pasar tradisional menjadi pemain global.
Dari Pasar Cinde, rempah-rempah itu kini melintasi batas kota, negara, dan generasi—membuktikan bahwa cita rasa lokal tak pernah kehilangan tempat di dunia.












