Bangkok — Di tengah sorotan dunia terhadap isu keberlanjutan, Pertamina Drilling justru mencuri perhatian lewat langkah tak biasa—mengubah limbah seragam kerja menjadi simbol inovasi di forum internasional.
Dalam ajang 7th Asia Pacific Conference on Industrial Engineering and Operations Management (IEOM) di Bangkok, Pertamina Drilling memperkenalkan pendekatan baru dalam pengelolaan limbah industri. Bukan sekadar pengurangan, melainkan transformasi menjadi produk bernilai melalui program Gear Upcycling Drilling (GUD).
Gagasan tersebut dipresentasikan oleh Assistant Manager Brand & Media Pertamina Drilling, Ade Barkah Darmond. Ia mengangkat konsep bahwa limbah bukan akhir dari siklus produksi, melainkan awal dari penciptaan nilai baru.
Melalui pendekatan Material Flow Analysis (MFA), setiap sisa material dari seragam kerja ditelusuri, diolah, dan dimanfaatkan kembali menjadi produk kreatif. Hasilnya tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga membawa pesan kuat tentang keberlanjutan.
“Ini bukan sekadar soal daur ulang, tapi bagaimana kita mengubah cara pandang terhadap limbah,” ujar Ade dalam forum tersebut.
Yang menarik, program ini juga melibatkan pelaku UMKM. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai kini menjadi bahan baku produk kreatif yang bahkan digunakan sebagai souvenir resmi perusahaan. Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Langkah Pertamina Drilling ini mendapat apresiasi dari kalangan akademisi internasional. Pendekatan yang diusung dinilai sebagai implementasi nyata konsep circular economy yang masih jarang diterapkan di sektor energi.
Bagi perusahaan, inovasi ini bukan sekadar proyek sesaat. Direktur Utama Pertamina Drilling, Avep Disasmita, menegaskan bahwa upaya tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam memperkuat posisi perusahaan di kancah global.
Menurutnya, industri energi tidak hanya dituntut menghasilkan sumber daya, tetapi juga bertanggung jawab terhadap dampak yang ditimbulkan.
Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan bahwa daya saing industri tidak lagi hanya diukur dari produksi, tetapi juga dari kemampuan berinovasi dan beradaptasi terhadap tuntutan zaman.
Dari limbah yang kerap terabaikan, kini lahir sebuah gerakan yang membawa nama Indonesia ke panggung dunia—membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal yang paling sederhana.













