Palembang — Selama bulan suci Ramadan, penumpang LRT Sumsel mendapatkan kelonggaran khusus saat bepergian. Operator memberikan izin bagi penumpang untuk membatalkan puasa di dalam kereta, sebuah kebijakan yang dihadirkan demi kenyamanan pengguna transportasi publik saat waktu berbuka tiba.
Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia Divre III Palembang, Aida Suryanti, menjelaskan bahwa penumpang diperbolehkan mengonsumsi makanan ringan dan minuman saat azan Magrib berkumandang, khusus bagi mereka yang masih berada dalam perjalanan.
“Kelonggaran ini kami berikan sebagai bentuk penghormatan kepada penumpang yang menjalankan ibadah puasa. Namun tetap ada batasan, hanya makanan ringan dan minuman dalam botol atau tumbler,” kata Aida, Selasa (17/2/2026).
Kebijakan ini menjadi pengecualian dari aturan normal LRT yang melarang aktivitas makan dan minum di dalam kereta. Menurut Aida, aturan dasar tersebut tetap diberlakukan di luar waktu berbuka guna menjaga kebersihan, kenyamanan, dan fasilitas umum.
Toleransi ini dinilai penting karena jadwal operasional LRT masih berlangsung hingga malam hari. Kereta terakhir tercatat berangkat pukul 19.01 WIB dari Stasiun DJKA dan pukul 19.55 WIB dari Stasiun Bandara, sehingga banyak penumpang yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka tiba.
Meski Ramadan, operasional LRT Sumsel tidak mengalami perubahan. Sebanyak 94 perjalanan tetap dijalankan setiap hari, mulai pukul 05.06 hingga 20.43 WIB, dengan jarak kedatangan antar kereta sekitar 18 menit.
Dari sisi jumlah pengguna, minat masyarakat terhadap LRT Sumsel terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 1 Januari hingga 16 Februari 2026, total penumpang tercatat mencapai 571.837 orang, dengan rata-rata harian lebih dari 12 ribu penumpang. Puncak tertinggi terjadi pada awal tahun, tepatnya 1 Januari 2026, dengan lebih dari 37 ribu penumpang dalam sehari.
Beberapa stasiun juga menjadi titik favorit masyarakat, antara lain Stasiun Asrama Haji, Ampera, DJKA, dan Bumi Sriwijaya, yang secara konsisten mencatat volume penumpang tertinggi.
Selain melayani mobilitas harian warga, LRT Sumsel juga berperan penting sebagai penghubung menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II. Konektivitas ini dinilai efektif dalam memangkas waktu tempuh dan mengurangi kepadatan lalu lintas menuju bandara.
Aida mengimbau calon penumpang pesawat untuk merencanakan perjalanan dengan matang, termasuk memilih jadwal LRT setidaknya tiga jam sebelum waktu keberangkatan pesawat.
“LRT Sumsel terus berkembang sebagai moda transportasi modern dan andalan masyarakat. Kami berkomitmen meningkatkan pelayanan agar perjalanan warga semakin efisien dan nyaman, termasuk di momen Ramadan,” pungkasnya.













