Jakarta — Bepergian ke luar negeri mungkin hal biasa bagi sebagian orang. Namun bagi Rio Adi Pratama (32), pemuda asal Lampung, perjalanan lintas negara terasa seperti mimpi yang terlalu jauh untuk digapai.
Beberapa tahun silam, ia hanya bisa membayangkan seperti apa rasanya berjalan di jalanan Singapura, menikmati suasana kota di Thailand, atau melihat hiruk pikuk negara lain di Asia Tenggara lainnya.
Bukan karena kurangnya keinginan, tetapi karena satu hal yang menjadi penghalang yakni biaya perjalanan.
“Saya sebenarnya sudah lama ingin liburan ke luar negeri. Tapi waktu itu lihat harga tiket pesawat masih mahal, jadi niatnya saya urungkan,” kata Rio.
Di tahun 2018, sebuah kesempatan akhirnya datang tanpa diduga. Keisengannya mencari tiket penerbangan di internet membuahkan hasil.
Dia menemukan penawaran menarik dari Scoot Airline yang merupakan Singapore Airline (SIA) Group. Hal ini membuatnya kembali bermimpi.
Harga tiket yang ditawarkan jauh lebih terjangkau dibandingkan maskapai lain. Bahkan, saat itu ia menemukan tiket menuju Singapura dengan harga sekitar Rp360 ribu.
“Lihat harga tiket Scoot yang murah, ini kesempatan. Dari situ saya kembali merencanakan perjalanan ke luar negeri,” jelasnya.
Singapura menjadi negara pertama yang ia kunjungi. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke Thailand dan Malaysia.
Meski belum benar-benar “keliling dunia”, bagi Rio perjalanan tersebut sudah menjadi pencapaian besar.
“Sekarang sudah beberapa negara yang saya datangi. Tapi masih ada mimpi lain, seperti ke Jepang dan Korea,” katanya sambil tersenyum.
Maskapai Hemat yang Membuka Peluang
Scoot Airlines sendiri merupakan maskapai berbiaya rendah yang berada di bawah naungan Singapore Airlines (SIA) Group. Kehadiran maskapai ini membuka peluang bagi lebih banyak orang untuk bepergian lintas negara dengan biaya yang lebih terjangkau.
Langkah SIA menghadirkan maskapai dengan konsep low-cost carrier ini pun mendapat banyak apresiasi dari dunia penerbangan. Scoot telah meraih berbagai penghargaan internasional, di antaranya Best Low-Cost Carrier (Asia Pacific), World’s Best Long-Haul Low-Cost Airline, serta sejumlah penghargaan lainnya.
Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa penerbangan hemat tidak selalu berarti mengorbankan kualitas layanan.
Bagi penumpang seperti Rio, keberadaan maskapai dengan harga terjangkau menjadi jembatan yang menghubungkan mimpi dengan kenyataan.
KrisFlyer Buat Perjalanan Keliling Dunia Jadi Gaya Hidup
Pengalaman terbang bersama Scoot ternyata tidak hanya berhenti pada perjalanan itu sendiri. Di balik setiap tiket yang dibeli, terdapat peluang lain yang semakin memperkaya pengalaman penumpang.
Salah satunya melalui KrisFlyer, program loyalitas dari Singapore Airlines Group yang kini memiliki lebih dari 11 juta anggota di seluruh dunia.
Berbeda dari program frequent flyer tradisional, KrisFlyer telah berkembang menjadi sebuah ekosistem gaya hidup.
Program ini menghubungkan perjalanan udara dengan berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari belanja, kuliner, hingga wisata.
Anggota tidak hanya mendapatkan miles saat terbang bersama Singapore Airlines atau Scoot, tetapi juga bisa mengumpulkannya melalui transaksi dengan lebih dari 1.800 merek non-maskapai di seluruh dunia.
Miles yang terkumpul bahkan bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari produk gaya hidup hingga pengalaman wisata.
Melalui KrisShop, platform e-commerce milik SIA Group, anggota dapat memilih lebih dari 1.700 merek lokal dan internasional untuk ditukar dengan miles yang dimiliki.
Konsep ini menjadikan miles bukan sekadar bonus perjalanan, tetapi berubah menjadi “mata uang gaya hidup”.
Bagi Rio, manfaat tersebut menjadi nilai tambah yang membuat perjalanannya semakin berarti.
Setiap kali ia terbang menggunakan Scoot Airlines, miles dari KrisFlyer terus terkumpul. Bagi sebagian orang, poin tersebut mungkin hanya sekadar angka di akun digital. Namun bagi Rio, itu adalah investasi kecil untuk mimpi berikutnya.
“Setiap perjalanan saya dapat poin KrisFlyer. Lumayan kalau dikumpulkan,” katanya.
Ia bahkan sudah memiliki rencana sendiri mengenai bagaimana miles tersebut akan digunakan. Alih-alih langsung menukarkannya, Rio memilih untuk mengumpulkannya terlebih dahulu hingga jumlahnya cukup besar.
“Rencananya mau saya kumpulkan dulu. Kalau sudah cukup, mungkin ditukar kembali menjadi tiket pesawat,” ujarnya sambil tersenyum.
Baginya, setiap perjalanan bukan hanya soal berpindah tempat, tetapi juga tentang cerita yang bisa dibagikan kepada orang lain.
“Kadang kita berpikir keliling dunia itu hanya untuk orang-orang yang punya banyak uang. Tapi ternyata kalau ada kesempatan dan kita berani mencoba, pelan-pelan mimpi itu bisa tercapai,” tutupnya.













