Palembang — Harapan sederhana itu membawa Ryansyah pergi jauh dari rumah. Ia hanya ingin hidup lebih baik, mencari nafkah untuk anaknya yang masih kecil. Tawaran kerja sebagai pegawai restoran di Vietnam terdengar seperti jalan keluar dari himpitan ekonomi.
Namun, langkah yang ia pilih justru membawanya ke lorong gelap yang tak pernah ia bayangkan.
Alih-alih tiba di Vietnam, Ryansyah justru dibawa ke Kamboja. Di sana, ia tidak bekerja di restoran seperti yang dijanjikan. Ia dipaksa menjadi admin penipuan online—menjalankan skenario tipu daya terhadap orang lain demi keuntungan kelompok tertentu.
“Kerjanya chatting, pura-pura perhatian, nanti ada tim lain yang ambil uangnya,” ujarnya pelan, mengingat kembali masa-masa itu.
Bukan hanya tekanan mental, kekerasan fisik menjadi bagian dari kesehariannya. Target yang tak tercapai berujung hukuman. Tubuhnya menjadi saksi.
“Pantat saya sering dicambuk sampai biru. Pernah juga disetrum,” kata Ryan.
Selama tujuh bulan, ia hanya menerima upah dua bulan sebesar Rp6 juta. Uang itu pun langsung ia kirim ke keluarga di Palembang—tanpa pernah menceritakan penderitaannya.
Ia memilih diam. Bukan karena kuat, tapi karena tak ingin keluarganya ikut terluka oleh kenyataan pahit yang ia jalani.
Cerita serupa datang dari Varel, korban lainnya. Ia bahkan belum sempat memahami sepenuhnya situasi yang dihadapinya.
Baru empat hari bekerja, ia sudah mencium kejanggalan. Ia mendengar rencana bahwa dirinya akan “dijual” ke perusahaan lain jika tak mampu menghasilkan uang.
Ketakutan itu memaksanya mengambil keputusan cepat.
“Saya pilih kabur,” katanya.

Belasan pemuda yang hendak pulang ke Palembang dari Kamboja. Foto : Dok BP3MI
Bersama sembilan orang lainnya, Varel melarikan diri pada dini hari. Dalam gelap, sekitar pukul 02.00 waktu setempat, mereka mempertaruhkan segalanya demi satu hal: kebebasan.
Pelarian itu membawa mereka ke sebuah penampungan. Di sanalah harapan kembali muncul. Mereka merekam video, memohon pertolongan kepada pemerintah di tanah air.
Video itu viral.

Sejumlah pria asal Sumsel yang terjebak di Kamboja mengklaim dirinya korban perdagangan orang (Instagram: @calvinblue_)
Dan dari situlah, jalan pulang perlahan terbuka. Kepulangan 14 pemuda asal Palembang ini bukan sekadar perjalanan fisik dari luar negeri ke rumah. Ia adalah akhir dari mimpi buruk panjang yang nyaris merenggut segalanya—martabat, keselamatan, bahkan nyawa.
Setibanya di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, mereka tak lagi membawa harapan besar tentang gaji tinggi. Yang tersisa adalah rasa syukur karena masih diberi kesempatan pulang.
Di balik cerita mereka, tersimpan peringatan keras bagi siapa pun yang tergiur janji manis pekerjaan di luar negeri tanpa prosedur jelas.
Bahwa di balik tawaran “gaji besar”, bisa saja tersembunyi jerat kejahatan yang tak memberi ruang untuk kembali—kecuali dengan keberanian dan sedikit keberuntungan.
Kini, mereka kembali ke Palembang. Mencoba memulai ulang hidup yang sempat terhenti.













