PALEMBANG – Suasana haru menyelimuti Open House Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 7 Palembang, Minggu (28/6/2026). Di balik penampilan seni dan demonstrasi pembelajaran, terselip kisah perjuangan anak-anak dari keluarga kurang mampu yang kini kembali memiliki harapan untuk meraih masa depan melalui Program Sekolah Rakyat.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan, keberhasilan program tersebut harus diawali dengan proses penjangkauan yang jujur dan tepat sasaran.
“Program ini harus dimulai dengan kejujuran dan keterbukaan. Tidak ada pendaftaran, yang ada adalah penjangkauan. Keluarga yang memenuhi kriteria di dalam DTSEN dijangkau oleh petugas, baru kemudian ditetapkan menjadi siswa Sekolah Rakyat,” ujar Gus Ipul.
Ia menegaskan, integritas harus dijaga sejak proses pendataan hingga pengelolaan program. Menurutnya, Sekolah Rakyat dibangun khusus untuk menjangkau anak-anak dari keluarga miskin yang selama ini belum memperoleh kesempatan pendidikan yang layak.
“Tidak boleh ada korupsi, sogok-menyogok ataupun tindakan yang tidak terpuji karena program ini diperuntukkan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan dalam proses pembangunan,” tegasnya.
Momen paling menyentuh terjadi saat Gus Ipul berbincang dengan Nur Aziza, siswi kelas X yang berasal dari keluarga buruh harian lepas. Dengan mata berkaca-kaca, Nur mengaku bersyukur dapat kembali mengenyam pendidikan melalui Sekolah Rakyat.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo. Berkat Program Sekolah Rakyat saya bisa sekolah lagi,” ucap Nur sambil menahan tangis.
Suasana semakin emosional ketika ibunda Nur, Widya Wati, menceritakan perubahan putrinya setelah hampir setahun belajar di SRMA 7 Palembang.
“Alhamdulillah sekarang lebih rajin belajar, rajin salat, dan sering membantu pekerjaan rumah. Saya berharap Nur bisa menggapai cita-citanya dan membanggakan keluarga,” katanya.
Kisah serupa juga datang dari M. Fariz Al Afiz, calon siswa berusia 10 tahun yang belum pernah mengenyam pendidikan formal akibat keterbatasan ekonomi keluarganya. Ayah Fariz bekerja sebagai buruh bangunan serabutan dan mengaku belum mampu menyekolahkan anaknya.
“Belum pernah sekolah karena kondisi ekonomi, Pak,” ujar sang ayah saat berdialog dengan Gus Ipul.
Menurut Gus Ipul, kisah Fariz menjadi gambaran nyata mengapa pemerintah menghadirkan Program Sekolah Rakyat.
“Inilah keluarga-keluarga yang belum terbawa dalam proses pembangunan. Karena itu Presiden mengajak kita memulai program ini dengan kejujuran agar benar-benar menyasar mereka yang membutuhkan,” katanya.
Open House tersebut juga menampilkan berbagai kreativitas siswa, mulai dari baris variasi, tari tradisional, karate, pidato empat bahasa, paduan suara, hingga demonstrasi pembelajaran berbasis teknologi menggunakan smartboard dan aplikasi Scratch.
Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi SRMA 7 Palembang, Erin Ramantia, mengaku fasilitas yang diberikan pemerintah sangat membantu proses belajar mengajar.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo, Bapak Menteri Sosial, Kemensos, dan semua pihak yang telah memberikan fasilitas luar biasa bagi kami,” ujarnya.
Saat ini Sumatera Selatan memiliki lima Sekolah Rakyat rintisan, yakni SRMA 7 Palembang, Sekolah Rakyat Terintegrasi 31 Palembang, SRMA 8 Ogan Ilir, SRT 15 Empat Lawang, dan SRMA 45 Ogan Komering Ulu.
Khusus SRMA 7 Palembang, sekolah tersebut telah menampung 96 siswa dan akan menerima tambahan 60 siswa baru yang seluruhnya berasal dari keluarga desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Gus Ipul berharap Program Sekolah Rakyat mampu membuka jalan bagi anak-anak kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi atau menjadi tenaga kerja terampil sesuai bakat dan potensi mereka.
“Manfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh. Antarkan anak-anak kita meraih cita-cita dan masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.








