Menu

Mode Gelap

News

Sekam Padi: Sampah Permata Bagi Buyung Poetra

badge-check


Pelet Sekam Padi sebagai bahan baku PLTBm PT Buyung Poetra Energi. Foto : PT BPE Perbesar

Pelet Sekam Padi sebagai bahan baku PLTBm PT Buyung Poetra Energi. Foto : PT BPE

PALEMBANG – SEJUMLAH petani tampak sibuk mengeringkan gabah di hamparan yang luas beralaskan terpal biru. Proses pengeringan berlangsung di tengah cahaya siang yang menyengat, saat jurnalis Urban.id berkunjung ke pabrik penggilingan padi di Jalan Mayor Iskandar, Desa Pegayut, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Rabu, 12 Agustus 2026. Beberapa truk berlalu lalang, siap mengangkut beras ke sejumlah distributor di sekitar Sumatera Selatan.

Namun hari itu, pabrik tengah berhenti berproduksi. Sebuah alat untuk mengkonversi sekam menjadi energi listrik rusak. Manajemen terpaksa menyetop sementara operasional penggilingan. Pabrik hanya memanfaatkan listrik dari PLN untuk mengelola padi.

“Pabriknya lagi mati karena ada perbaikan pipa-pipa boiler, ada yang bocor,” kata Supervisor Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa Buyung Putra Energi (PLTBm BPE), Candra Priansyah kepada Urban Id.

PT Buyung Poetra Sembada (BPS), produsen beras merek Topi Koki, mengolah sekam sisa penggilingan menjadi setrum. Candra bercerita gagasan membangun PLTBm berawal dari persoalan limbah, sekaligus mewujudkan mimpi mandiri energi di perusahaan.

Kebetulan, pabrik penggilingan berada di tengah permukiman warga. Lalu-lalang pekerja dan aktivitas pengolahan gabah menjadi bagian dari keseharian masyarakat di sekitar pabrik. Hal itu membuat pengelolaan limbah menjadi persoalan penting. Sebab semakin banyak gabah yang diolah, makin banyak pula limbah sekam yang dihasilkan.

“Saat puncak panen, pabrik menggiling hingga 500 ton gabah dan menghasilkan sekitar 115 ton sekam padi atau sekitar 23 persen dari total gabah yang digiling,” kata Candra.

Salah seorang pegawai PT BPE memeriksa tempat pembangkit listrik menggunakan sekam padi. Foto : Abdullah Toriq/Urban Id

Sebagian sekam dimanfaatkan sebagai media tanam. Sebagian lagi, dulu, dibuang atau dibakar. Tapi, praktik pembakaran menjadi persoalan karena menimbulkan pencemaran udara dan kabut asap yang memicu protes warga sekitar.

Persoalan limbah mendorong perusahaan mencari cara lain. Pada 2018, BPS mendirikan PT Buyung Putra Energi dan membangun pembangkit biomassa berkapasitas terpasang 3 Megawatt (MW), dengan bahan bakar utama sekam padi.

Pembangkit tersebut membutuhkan sekitar 80 ton sekam setiap hari. Adapun setrum yang dihasilkan sekitar 2,7 MW untuk memenuhi kebutuhan listrik pabrik.

Dengan demikian, sebagian besar sekam yang sebelumnya menjadi limbah kini menjadi sumber energi. “Permasalahan limbah teratasi dan efisiensi listrik juga diperoleh,” ujar Candra.

Pembangkit listrik menggunakan sekam padi di PT BPE. Foto : Abdullah Toriq/Urban Id

Pemanfaatan sekam juga berdampak langsung terhadap biaya energi perusahaan. Sebelum PLTBm beroperasi, tagihan listrik PLN mencapai Rp1,1 miliar per bulan. Kini, dengan biaya operasional pembangkit sekitar Rp 350 juta per bulan, perusahaan memperoleh efisiensi sekitar 68,18 persen dibandingkan biaya listrik sebelumnya.

Namun, pemanfaatan sekam sebagai bahan bakar pembangkit bukan tanpa tantangan. Pada periode tertentu, terutama saat musim tanam, aktivitas penggilingan berkurang. Walhasil, pasokan sekam dari pabrik BPS ikut berkurang. Bahkan, perusahaan harus mendatangkan sekam dari sejumlah penggilingan padi lain.

Untuk menjaga pasokan, sebagian sekam yang tidak langsung digunakan dapat diolah menjadi pelet. Pelet tersebut berfungsi sebagai cadangan bahan bakar ketika pasokan sekam sedang menurun.

“Terutama saat periode musim tanam yang mengalami penurunan produksi beras. Suplai sekam padi dari pabrik juga berkurang,” kata Candra. Biasanya, selain digunakan untuk bahan baku pembangkit, sisa sekam juga dapat diolah menjadi pelet untuk dijual.

Pengalaman BPS menunjukkan bahwa persoalan limbah industri penggilingan padi sebenarnya dapat diubah menjadi sumber energi. Limbah yang sebelumnya dibuang atau dibakar justru dapat kembali dimanfaatkan untuk menjalankan mesin produksi.

Model tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pemanfaatan biomassa tidak selalu harus dimulai dari pembangkit berskala besar. Pada industri pengolahan padi, sumber energi berada tepat di lokasi tempat limbah itu dihasilkan.

Ratusan Ribu Ton Sekam Padi Siap Diubah Menjadi Energi

PRAKTIK pengolahan limbah menjadi energi ala PT Buyung Poetra Sembada (BPS) di Pegayut, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan berpotensi dikembangkan dalam skala yang lebih besar. Sebab, sampah sekam tersedia berlimpah di lumbung pangan nasional ini.

Sumatera Selatan termasuk salah satu daerah penghasil padi utama di Indonesia. Produksi gabah kering giling (GKG) di provinsi ini diproyeksikan mencapai 2,885 juta ton hingga Agustus 2026, meningkat sekitar 108 ribu ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 2,776 juta ton.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Sumatera Selatan, Tuti Murti, mengatakan peningkatan produksi tersebut tidak terlepas dari strategi percepatan tanam yang dilakukan sejak April 2026.

“Tahun lalu produksinya sampai Agustus sekitar 2,776 juta ton. Sementara prognosa sampai Agustus tahun ini mencapai 2,885 juta ton. Artinya ada peningkatan sekitar 108 ribu ton gabah kering giling,” ujarnya kepada Urban Id Senin, 3 Agustus 2026.

Percepatan tanam juga membuat sebagian besar tanaman yang berpotensi terdampak kekeringan dapat dipanen sebelum puncak musim kemarau.

“Untuk bulan Agustus kami melihat belum ada kendala berarti. Lahan-lahan yang berpotensi kekeringan sebagian besar sudah dipanen,” kata Tuti.

Peningkatan produksi gabah berarti bertambahnya limbah sekam padi. Bila diasumsikan sekam sekitar 20 persen dari berat gabah, dengan produksi gabah Sumatera Selatan yang mencapai 3.627.022 ton dalam setahun, maka potensi sekam yang bisa diperoleh sekitar 725.404 ton.

Selama ini sekam digunakan untuk media tanam dan bahan bakar. Namun, ketika jumlahnya sangat berlimpah dan tidak terserap, sekam dapat berubah menjadi persoalan lingkungan. Pembakaran terbuka menjadi salah satu persoalan karena menghasilkan asap dan berpotensi memperburuk kualitas udara.

Pengalaman PT Buyung Poetra Sembada menunjukkan sekam tidak harus berakhir sebagai limbah. Di pabrik tersebut, sekitar 80 ton sekam per hari digunakan untuk menjalankan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) berkapasitas terpasang 3 MW. Listrik yang dihasilkan sekitar 2,7 MW dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pabrik.

Fungsional Perencana Ahli Madya Bappeda Sumatera Selatan, Brilliant Faisal, mengatakan potensi sekam padi di Sumatera Selatan cukup besar untuk dikembangkan sebagai sumber energi biomassa. “Jika seluruhnya dimanfaatkan menjadi energi biomassa, tentu sangat berpotensi memenuhi kebutuhan listrik masyarakat,” kata Faisal.

Seberapa Besar Sekam Padi Bisa Masuk Bauran Energi Sumsel?

SEKAM tidak harus berakhir sebagai limbah. Ketua Sumatera Selatan Bersih (Sumsel Bersih), Boni Bangun, mengatakan biomassa ini dapat dimanfaatkan melalui teknologi gasifikasi untuk menghasilkan gas yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

Alternatif lainnya adalah pembakaran langsung untuk menghasilkan energi panas yang dikonversi menjadi listrik.

Boni menggunakan asumsi nilai kalor sekam sekitar 14,8 megajoule (MJ) per kilogram. Dengan potensi sekam lebih dari 623 ribu ton, total energi yang terkandung di dalamnya diperkirakan mencapai 9,22 miliar MJ.

Jika efisiensi konversi energi menjadi listrik diasumsikan 25 persen, energi listrik yang dihasilkan sekitar 2,3 miliar MJ atau setara 640,57 juta kilowatt-hour (kWh). Dengan asumsi pembangkit beroperasi selama 8.000 jam dalam setahun, potensi tersebut setara dengan kapasitas pembangkit sekitar 80,07 MW.

“Angka tersebut masih merupakan estimasi teknis berbasis sejumlah asumsi. Besarnya listrik yang benar-benar dapat dihasilkan nantinya akan sangat bergantung pada teknologi yang digunakan, efisiensi pembangkit, kadar air sekam, kontinuitas pasokan, serta kemampuan mengumpulkan bahan baku dari sentra-sentra produksi padi.

Banyuasin dan OKU Timur Punya Potensi Besar

Mobil truk yang hendak mengambil beras di PT BPE. Foto : Abdullah Toriq/Urban Id

POTENSI sekam tidak tersebar secara merata. Kabupaten dengan produksi padi terbesar memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan pembangkit berbasis sekam karena bahan bakunya tersedia lebih dekat. Banyuasin menjadi salah satu wilayah yang paling potensial. Pada 2023, produksi padi kabupaten ini mencapai 920.413 ton.

Dengan asumsi sekam sebesar 22 persen, Banyuasin memiliki potensi sekam sekitar 202.490 ton. Jika diolah dengan asumsi efisiensi konversi 25 persen, potensi listriknya diperkirakan mencapai sekitar 208,13 juta kWh per tahun. Dengan asumsi pembangkit beroperasi 8.000 jam per tahun, kapasitas yang dapat ditopang diperkirakan mencapai 26,02 MW.

Wilayah potensial lainnya adalah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. Produksi padi di daerah tersebut pada 2023 mencapai sekitar 716.876 ton. Dari produksi itu, potensi sekam diperkirakan mencapai 157.712 ton. Energi listrik yang dapat dihasilkan dengan asumsi efisiensi 25 persen mencapai sekitar 162,1 juta kWh per tahun atau setara kapasitas pembangkit sekitar 20,26 MW.

Jika potensi Banyuasin dan OKU Timur digabungkan, estimasi kapasitas listrik berbasis sekam padi dari dua wilayah tersebut sekitar 46,28 MW.

Menurut Boni, pemanfaatan sekam padi seharusnya tidak hanya dilihat sebagai proyek pembangkit listrik. Pengembangan biomassa juga dapat menjadi bagian dari strategi transisi energi Sumatera Selatan sekaligus mengurangi persoalan lingkungan dari limbah pertanian.

Terlebih, Sumatera Selatan memiliki basis ekonomi pertanian dan perkebunan yang besar. Selain sekam padi, sumber biomassa lain yang potensial berasal dari limbah kelapa sawit, perkebunan, peternakan, hingga sampah rumah tangga.

“Memprioritaskan energi terbarukan dengan berfokus pada energi terbarukan, adil, dan berkelanjutan berdasarkan potensi dan kebutuhan wilayah,” ujarnya.

Menurut Boni, pengembangan energi terbarukan perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah. Untuk kawasan sentra padi, misalnya, sekam dapat dikembangkan menjadi bahan bakar pembangkit di sekitar lokasi produksi. Pendekatan tersebut juga dapat mengurangi persoalan logistik karena bahan baku tidak harus diangkut dari wilayah yang jauh.

Namun, pengembangan biomassa membutuhkan dukungan kebijakan. Pemerintah daerah dinilai perlu memberikan insentif bagi investasi energi terbarukan sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam pengembangan energi berbasis potensi lokal.

“Partisipasi masyarakat, subsidi, hibah, pendampingan, dan program pendidikan menjadi bagian penting agar energi terbarukan tidak hanya berkembang sebagai proyek industri, tetapi juga dapat diterima dan dimanfaatkan masyarakat,” Boni menjelaskan.

Pengembangan listrik dari sekam padi juga dinilai memiliki arti strategis bagi Sumatera Selatan yang selama ini memiliki ketergantungan besar terhadap sektor pertambangan, khususnya batu bara.
Boni mendorong pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten penghasil batu bara mulai menyiapkan sumber pendapatan daerah alternatif seiring berlangsungnya transisi energi.

“Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan serta kabupaten penghasil batu bara harus menyiapkan skenario sumber PAD lainnya yang selama ini masih bergantung pada sektor minerba,” katanya.

Dengan demikian, sekam padi dapat ditempatkan dalam dua kepentingan sekaligus yakni sebagai solusi pengelolaan limbah pertanian dan sebagai sumber energi alternatif.

Potensi sekitar 80 MW yang dihitung dari produksi padi Sumatera Selatan pada 2023 memang belum berarti seluruh kapasitas tersebut dapat langsung dibangun. Masih diperlukan kajian teknis, keekonomian, ketersediaan bahan baku, teknologi, jaringan listrik, hingga skema investasi.

Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa sumber energi terbarukan Sumatera Selatan tidak hanya berada di bawah tanah dalam bentuk batu bara atau panas bumi. Di permukaan, dari limbah yang dihasilkan aktivitas pertanian setiap tahun, terdapat potensi energi yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Potensi Besar, PLTBm Belum Memasok Listrik ke PLN

Pembangkit listrik berbahan bakar sekam padi milik PT Buyung Putra Sembada (BPS) di Pegayut, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, ternyata tidak tercatat sebagai pemasok listrik ke jaringan PLN. Kepastian tersebut disampaikan Manager Humas PT PLN UID S2JB, Iwan Ariesetiadi, saat menjelaskan status pembangkit biomassa milik perusahaan penggilingan beras tersebut.

Menurut Iwan, berdasarkan data kerja sama ketenagalistrikan yang tercatat di PLN UID S2JB, tidak terdapat perjanjian jual beli tenaga listrik maupun kerja sama excess power antara PLN dengan PT Buyung Putra Sembada terkait pembangkit berbahan bakar sekam padi.

“Apabila perusahaan memiliki dan mengoperasikan pembangkit biomassa untuk memenuhi kebutuhan listrik internal atau captive power, maka sistem pembangkitan dan instalasi kelistrikannya berada dalam lingkup operasional perusahaan sesuai perizinan dan ketentuan ketenagalistrikan yang berlaku,” ujarnya, kepada Urban Id, Jumat 14 Agustus 2026.

Namun, PLN belum dapat memastikan bagaimana konfigurasi jaringan internal yang digunakan PT Buyung Putra Sembada, termasuk kapasitas pembangkit dan pola operasionalnya. Informasi tersebut, kata Iwan, perlu dikonfirmasi langsung kepada pihak perusahaan atau instansi yang menerbitkan perizinan pembangkit.

PLN UID S2JB menyebut hingga saat ini belum ada PLTBm di Sumatera Selatan yang beroperasi dan terikat kontrak jual beli tenaga listrik dengan PLN. Namun, peluang masuknya listrik biomassa ke jaringan PLN mulai terbuka melalui PT OKI Pulp & Paper Mills di Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI.

“Perusahaan sedang memproses kerja sama pemanfaatan excess power dengan PLN dengan kapasitas yang direncanakan mencapai 10 megawatt (MW),” kata dia.

Rencana itu telah memperoleh persetujuan dari PLN Pusat dan kini memasuki tahap penyelesaian Connection/Commercial/Cooperation Development Agreement (CDA), sebelum berlanjut ke penandatanganan kontrak.

“PT OKI Pulp & Paper Mills sendiri telah memanfaatkan energi dari residu proses produksinya, seperti kulit kayu (bark) dan biomassa lainnya,”kata dia.

Namun, PLN menegaskan kapasitas pembangkit yang digunakan perusahaan untuk kebutuhan internal tidak sama dengan kapasitas excess power yang nantinya direncanakan masuk ke sistem PLN.

Peluang dari Limbah Industri

PLN menilai Sumatera Selatan memiliki peluang besar mengembangkan pembangkit berbasis energi terbarukan karena memiliki sumber bahan baku yang melimpah. Residu kayu, limbah sawit, sekam padi, dan berbagai limbah organik dari sektor perkebunan, kehutanan, pulp and paper serta agroindustri berpotensi diolah menjadi energi.

“Pemanfaatan excess power dari industri menjadi salah satu peluang untuk mengoptimalkan sumber energi yang sudah tersedia sekaligus meningkatkan porsi energi yang lebih ramah lingkungan dalam sistem kelistrikan,” kata Iwan.

Meski demikian, setiap rencana pembangkit yang akan dihubungkan dengan jaringan PLN harus melalui kajian. Aspek yang diperhitungkan antara lain kemampuan jaringan, keandalan sistem, kualitas listrik, keselamatan, keekonomian dan regulasi.

Liputan ini didukung oleh Yayasan Indonesia Cerah dan AJI Palembang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Anastasya: Gagal Paskibraka Nasional, Berujung Jadi Pembawa Baki di Griya Agung

17 Agustus 2026 - 14:19 WIB

HUT ke-81 RI, Herman Deru Titip Pesan: Pertahankan Spirit Menang Generasi Muda

17 Agustus 2026 - 14:10 WIB

Pertamina Peduli, Salurkan Energi Kebaikan untuk Menguatkan 700 Warga Terdampak Gempa di Maumere

17 Agustus 2026 - 14:06 WIB

Ratu Dewa Ajak Warga Palembang Maknai Kemerdekaan untuk Terus Berkarya

17 Agustus 2026 - 12:41 WIB

Pertamina Patra Niaga Peduli NTT, Sumbangkan Rp81/liter Pembelian BBM Pertamax & Dex Series untuk Korban Bencana

17 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Trending di News