PALEMBANG – Berkurangnya beras premium kemasan lima kilogram di sejumlah pasar Palembang membuat Perum Bulog Kanwil Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel Babel) turun tangan. Bukan karena stok beras menipis, persoalan justru terjadi pada sisi produksi dan biaya pengemasan.
Untuk menjaga ketersediaan beras di tengah kondisi tersebut, Bulog menggelontorkan 23 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke sejumlah pasar tradisional di Palembang pada 21 Agustus 2026.
Pimpinan Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel, Ihsan, mengatakan pasokan tersebut disalurkan ke Pasar Lemabang dan Pasar KM 5. Langkah itu dilakukan agar masyarakat tetap memiliki alternatif beras dengan harga yang lebih terjangkau.
“Pada 21 Agustus 2026, kita memasok sebanyak 23 ton beras ke Pasar Lemabang, Pasar KM 5 Palembang itu sebanyak 13 ton beras,” ujar Ihsan saat ditemui di Palembang, Kamis (27/8/2026).
Menurut Ihsan, kelangkaan beras premium kemasan lima kilogram di tingkat pedagang tidak serta-merta menunjukkan adanya persoalan pada ketersediaan beras secara umum.
Ia menjelaskan, produsen justru menghadapi persoalan biaya produksi. Kemasan berukuran kecil membutuhkan biaya material yang relatif lebih mahal jika dihitung berdasarkan setiap kilogram beras yang dikemas.
Biaya tenaga kerja juga menjadi pertimbangan. Sistem pengupahan buruh pengemasan berdasarkan berat membuat proses produksi kemasan lima kilogram dinilai kurang efisien dibandingkan kemasan berukuran lebih besar.
Kondisi itu membuat sebagian produsen mengurangi produksi beras premium kemasan kecil. Jika biaya tersebut dibebankan sepenuhnya ke harga jual, harga beras berpotensi meningkat dan sulit bersaing di pasar.
“Produsen tidak memaksakan produksi beras premium kemasan lima kilogram karena apabila biaya produksi meningkat, harga jual berpotensi menjadi lebih tinggi,” katanya.
Di tengah berkurangnya pasokan beras premium kemasan lima kilogram, Bulog memilih memperkuat distribusi beras SPHP sebagai salah satu opsi bagi masyarakat.
Bulog Sumsel Babel berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan serta pengelola pasar untuk memastikan distribusi beras tersebut dapat menjangkau masyarakat dan tidak hanya terkonsentrasi di titik tertentu.
Ihsan juga menegaskan masyarakat tidak perlu panik dengan kondisi pasokan beras di Sumsel. Menurutnya, cadangan beras pemerintah yang tersimpan di gudang Bulog masih dalam kondisi aman.
“Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras di Sumatera Selatan karena stok Bulog masih mencukupi,” ujarnya.









