PALEMBANG – Kematian Hardiansyah (41), pengemudi ojek online (ojol) asal Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang, di tengah pekatnya kabut asap menjadi perhatian pemerintah. Namun, penyebab pasti meninggalnya warga tersebut belum dapat dikaitkan langsung dengan paparan asap karhutla.
Hardiansyah meninggal pada Jumat (2/10/2026) setelah mengalami sesak napas. Korban diketahui memiliki riwayat penyakit asma.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Sumatera Selatan dalam beberapa waktu terakhir turut memicu gangguan pernapasan yang dialaminya.
Gubernur Sumsel Herman Deru meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian hanya berdasarkan kondisi yang terjadi di lapangan.
Menurutnya, kepastian medis mengenai faktor yang menyebabkan seseorang meninggal harus didasarkan pada pemeriksaan ilmiah.
“Kalau untuk yang meninggal, saya tidak bisa membenarkan atau menolak. Penyebab meninggal harus hasil autopsi, tidak bisa prediksi,” ujar Deru, Senin (5/10/2026).
Pemerintah Kota Palembang juga belum memastikan apakah kabut asap memiliki kaitan langsung dengan meninggalnya Hardiansyah.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan Dinas Kesehatan masih melakukan pendalaman untuk melihat kondisi medis korban serta kemungkinan keterkaitannya dengan paparan kabut asap.
“Mengenai faktor penyebab seperti apa, saat ini masih didalami dan dikaji oleh pihak Dinas Kesehatan,” kata Dewa.
Meski penyebab kematian masih dalam kajian, Pemkot Palembang memilih memperkuat layanan kesehatan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap yang dapat memperburuk kondisi warga, khususnya mereka yang memiliki penyakit pernapasan.
Dewa mengatakan puskesmas dan posko kesehatan telah disiagakan selama 24 jam. Fasilitas tersebut juga dilengkapi ambulans untuk mempercepat penanganan apabila ditemukan warga yang membutuhkan pertolongan lebih lanjut.
“Puskesmas dan posko kesehatan di kota telah disiagakan selama 24 jam penuh, lengkap dengan ambulans yang standby. Termasuk akan langsung merujuk pasien ke rumah sakit pemerintah maupun swasta jika diperlukan,” ujarnya.
Selain memperkuat fasilitas kesehatan, Pemkot Palembang meminta petugas bersama pengurus RT dan RW aktif memantau kondisi warga di lingkungan permukiman.
Langkah tersebut dilakukan agar warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi udara buruk dapat segera memperoleh pertolongan tanpa harus menunggu datang ke fasilitas kesehatan.
“Petugas bersama pengurus RT dan RW kita imbau menerapkan metode jemput bola langsung ke permukiman warga untuk mendata dan memberikan pertolongan medis bagi yang terdampak,” katanya.









