Menu ✖

Mode Gelap

News

Cairan dari Brasil Diuji untuk Karhutla Sumsel, Lahan Diklaim Lembap hingga 3 Hari

badge-check


Cairan dari Brasil Diuji untuk Karhutla Sumsel, Lahan Diklaim Lembap hingga 3 Hari Perbesar

BANYUASIN – Teknologi cairan berbahan tebu dari Brasil mulai diuji sebagai alternatif penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel). Cairan bernama Realiza Anticomas tersebut didemonstrasikan di Banyuasin dengan hasil awal berupa kondisi lahan yang dinilai lebih lembap dibandingkan penyiraman menggunakan air biasa.

Kelembapan lahan setelah penyiraman dilaporkan dapat bertahan selama dua hingga tiga hari. Teknologi ini diharapkan dapat mendukung pemadaman sekaligus membantu mengurangi risiko kebakaran berulang, terutama di wilayah yang menghadapi kondisi lahan kering.

Asisten Deputi Bidang Koordinasi Kekuatan, Kemampuan, dan Kerja Sama Pertahanan Kemenko Polkam, Brigjen Mar Kresno Pratowo, mengatakan cairan tersebut direkomendasikan untuk mendukung efektivitas teknis pemadaman api.

“Cairan ini direkomendasikan untuk mendukung teknis pemadaman api secara efektif,” ujar Kresno, Jumat (9/10/2026).

Demonstrasi teknologi ini melibatkan tim dari Brasil bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Kehadirannya menjadi bagian dari upaya mencari alternatif penanganan karhutla yang masih menjadi persoalan berulang di Sumsel.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan uji coba tersebut penting untuk melihat potensi penerapan teknologi baru dalam kondisi lahan di daerahnya. Berdasarkan informasi yang diterimanya, satu liter Realiza Anticomas dicampur dengan 2,5 meter kubik atau sekitar 2.500 liter air.

“Kita melihat uji coba teknologi dari Brasil, namanya Realiza. Informasinya, satu liter cairan dicampur dengan 2,5 meter kubik air. Kita akan melihat bagaimana hasilnya, karena teknologi ini diinformasikan sangat efektif untuk memadamkan api dan mampu masuk ke dalam tanah,” kata Deru.

Menurut Deru, potensi teknologi tersebut tidak hanya dilihat dari kemampuannya membantu pemadaman, tetapi juga menjaga kelembapan lahan setelah penyiraman. Kondisi ini diharapkan dapat mendukung pencegahan kebakaran berulang.

Ia juga menyoroti informasi bahwa cairan tersebut tidak mematikan serangga yang hidup di dalam tanah. Namun, hasil demonstrasi tetap perlu menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui kesesuaian penggunaannya dengan karakteristik lahan yang terbakar di Sumsel.

“Jadi teknologi berguna untuk pencegahan, memadamkan, dan menghindari kejadian karhutla berulang. Karena kelembapannya bisa bertahan sampai tiga hari setelah disiram,” ungkapnya.

Deru berharap demonstrasi tersebut dapat memberikan gambaran mengenai manfaat teknologi Brasil dalam memperkuat penanganan karhutla. Hasil uji coba akan menjadi pertimbangan untuk menilai apakah cairan tersebut sesuai digunakan pada kondisi lahan di Sumsel.

Kemampuan mempertahankan kelembapan selama beberapa hari menjadi salah satu aspek yang disorot dalam demonstrasi. Meski demikian, efektivitasnya dalam memadamkan api, mencegah kebakaran kembali, serta penerapannya pada berbagai jenis lahan masih perlu dinilai melalui pengujian lebih lanjut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kala Nurani ASN Palembang Merangkul Warga Terdampak Asap: Himpun 5 Ton Beras Bantuan

10 Oktober 2026 - 18:30 WIB

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026

10 Oktober 2026 - 16:18 WIB

Predator Anak Berkedok Pembina Pramuka di Palembang Dibekuk, 8 Siswa Jadi Korban Asusila

10 Oktober 2026 - 13:29 WIB

Pastikan Aspek Keselamatan dan Keamanan Operasi, Dua Komisaris Utama Subholding Integrated Marine Logistics Pertamina Kunjungi Fuel Terminal Merauke

10 Oktober 2026 - 09:15 WIB

Delapan Helikopter Disiapkan untuk Padamkan Karhutla Sumsel

9 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Trending di News