Menu ✖

Mode Gelap

News

Sumsel Diprediksi Masuki Musim Hujan November Mendatang

badge-check


Ilustrasi hujan. Foto : Pixabay Perbesar

Ilustrasi hujan. Foto : Pixabay

PALEMBANG — Setelah berbulan-bulan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap, wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) diprediksi mulai memasuki musim hujan pada pertengahan November 2026. Curah hujan diperkirakan mencapai puncaknya pada Desember dengan intensitas hingga 400 milimeter (mm).

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mengatakan musim hujan diprakirakan berlangsung selama enam hingga tujuh bulan, atau sampai Mei–Juni 2027. Namun, waktu awal musim hujan berpotensi berbeda di setiap wilayah.

“Pertengahan November 2026 wilayah Sumsel akan memasuki musim hujan. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Desember dengan curah hujan mencapai 400 milimeter,” ujar Wandayantolis, Jumat (16/10/2026).

Menurutnya, datangnya musim hujan diharapkan membantu mengurangi dampak karhutla yang selama ini menyebabkan kerusakan lahan dan kabut asap di sejumlah daerah di Sumsel. Hujan dapat membasahi kembali lahan yang mengering sehingga membantu menekan potensi kebakaran baru.

“Hujan yang turun dapat membantu membasahi lahan yang mengering dan mengurangi potensi terjadinya kebakaran baru. Termasuk juga akan mengatasi dampak asap,” katanya.

Meski demikian, masyarakat di sejumlah wilayah masih harus menunggu kedatangan hujan lebih lama. Di Kota Palembang dan wilayah utara Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), musim hujan diprediksi mulai pada pertengahan November. Sementara itu, OKI bagian selatan diperkirakan baru memasuki musim hujan pada awal Desember.

Perbedaan waktu tersebut membuat upaya penanganan karhutla belum bisa dihentikan hanya dengan mengandalkan prakiraan musim hujan. Terutama di kawasan gambut yang membutuhkan perhatian khusus karena kondisi lahan yang mengering dapat mempertahankan risiko kebakaran.

Ancaman Banjir Mengintai Saat Hujan Lebat

Di balik harapan meredanya karhutla, peningkatan curah hujan juga membawa potensi bencana lain. Wandayantolis mengingatkan masyarakat agar mewaspadai bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, hingga pohon tumbang.

Hujan berintensitas tinggi dalam waktu singkat dapat meningkatkan debit air sungai. Pada saat bersamaan, saluran drainase yang tidak mampu menampung aliran air berisiko memicu genangan hingga banjir.

Ancaman tersebut perlu diperhatikan, khususnya di kawasan permukiman padat, daerah dataran rendah, serta wilayah yang berada di sekitar aliran sungai.

Selain banjir, hujan lebat yang berlangsung terus-menerus juga dapat meningkatkan risiko longsor dan erosi, termasuk di sepanjang aliran sungai.

“Karena itu, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan perlu diantisipasi dengan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana,” jelasnya.

Wandayantolis mengimbau masyarakat menjaga kebersihan saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, serta memperhatikan kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pertamina Patra Niaga Siagakan Operasional 24 Jam untuk Percepat Pemulihan Layanan BBM di Bali

17 Oktober 2026 - 07:33 WIB

Pertamina Patra Niaga Dukung Arahan Gubernur Bali Terapkan Ganjil Genap Pengisian BBM Mulai 17 Oktober 2026

16 Oktober 2026 - 22:50 WIB

Gubernur Sumsel Telepon Menhut agar Dry Ice Tak Dihentikan

16 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Dry Ice Diharapkan Buka Jalan OMC dan Water Bombing di Sumsel

16 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Pertamina Patra Niaga Tambah Pasokan Pertalite untuk Percepat Pemulihan Layanan BBM di Bali

16 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Trending di News