Palembang — Upaya pengentasan kemiskinan di Kota Palembang membuahkan hasil positif. Kota tertua di Indonesia ini mencatatkan tren penurunan angka kemiskinan yang cukup signifikan, sekaligus mengukuhkan posisinya di papan atas daerah dengan tingkat kemiskinan terendah se-Sumatera Selatan (Sumsel).
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2026, persentase penduduk miskin di Kota Palembang menyusut hingga berada di angka 8,35 persen. Capaian ini membaik 0,69 persen poin dibandingkan periode Maret 2025 yang saat itu masih menyentuh 9,04 persen.
Dengan angka tersebut, Palembang kini bertengger di posisi ketiga daerah dengan persentase kemiskinan terendah di Sumsel. Posisi Palembang tepat berada di bawah Kota Pagar Alam (7,12 persen) yang menduduki peringkat pertama dan Kabupaten Banyuasin (8,28 persen) di posisi kedua.
Capaian Palembang juga terbilang impresif karena berada jauh di bawah rata-rata angka kemiskinan Provinsi Sumatera Selatan yang masih berada di level 10,15 persen, serta semakin mendekati rata-rata kemiskinan nasional sebesar 8,25 persen.
Efektivitas Program dan Kualitas Hidup yang Membaik
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Palembang, Kemas Haikal, menyambut baik rilis data dari BPS tersebut. Ia menilai, tren positif ini menunjukkan bahwa deretan program intervensi sosial dari pemerintah kota mulai membuahkan hasil nyata di lapangan.
”Alhamdulillah, berdasarkan data resmi BPS Kota Palembang per Maret 2026, persentase penduduk miskin Kota Palembang turun signifikan menjadi 8,35 persen. Ini turun 0,69 poin dibandingkan Maret 2025 yang masih di angka 9,04 persen. Dengan capaian ini, Palembang menempati posisi ketiga terendah se-Sumsel,” ujar Kemas Haikal, Sabtu (17/10/2026).
”Ini bukti bahwa program penanggulangan kemiskinan yang dijalankan Pemerintah Kota Palembang bersama seluruh stakeholder berjalan efektif dan tepat sasaran,” tegasnya.
Haikal membeberkan, perbaikan tak hanya terlihat dari berkurangnya jumlah warga miskin secara kuantitas, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat miskin itu sendiri.
Hal ini tecermin dari dua parameter utama BPS:
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menyusut 0,18 poin menjadi 1,22. Penurunan ini menandakan bahwa jarak rata-rata pengeluaran warga miskin makin mendekati Garis Kemiskinan.
”Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk miskin semakin dekat ke Garis Kemiskinan. Artinya, mereka semakin sejahtera,” terang Haikal.
Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) ikut melandai sebesar 0,05 poin ke level 0,27.
”Angka ini menurun 0,05 poin dari Maret 2025 menjadi 0,27 pada Maret 2026. Ini menunjukkan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin itu sendiri semakin mengecil dan semakin merata,” tambahnya.
Peta Kemiskinan Sumatera Selatan 2025 vs 2026
Secara umum, hampir seluruh kabupaten/kota di Sumatera Selatan mengalani penurunan angka kemiskinan pada periode 2025–2026. Penurunan paling drastis dicatatkan oleh Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) yang berhasil menekan angka kemiskinannya sebesar 3,55 persen poin.
Berikut peta persentase kemiskinan 17 Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan berdasarkan data BPS:
- Kota Pagar Alam: 7,70% (2025) ➔ 7,12% (2026) (Terendah #1)
- Kabupaten Banyuasin: 8,48% (2025) ➔ 8,28% (2026) (Terendah #2)
- Kota Palembang: 9,04% (2025) ➔ 8,35% (2026) (Terendah #3)
- OKU Timur: 8,86% (2025) ➔ 8,55% (2026)
- PALI: 9,26% (2025) ➔ 8,86% (2026)
- OKU Selatan: 9,17% (2025) ➔ 8,89% (2026)
- Muara Enim: 9,45% (2025) ➔ 8,98% (2026)
- Musi Banyuasin: 9,97% (2025) ➔ 9,07% (2026)
- Kota Prabumulih: 9,75% (2025) ➔ 9,37% (2026)
- OKU: 10,08% (2025) ➔ 9,48% (2026)
- Empat Lawang: 10,48% (2025) ➔ 10,29% (2026)
- Ogan Ilir: 11,69% (2025) ➔ 11,01% (2026)
- Lahat: 11,63% (2025) ➔ 11,04% (2026)
- OKI: 11,84% (2025) ➔ 11,48% (2026)
- Musi Rawas Utara (Muratara): 15,25% (2025) ➔ 11,70% (2026)
- Musi Rawas: 12,68% (2025) ➔ 12,59% (2026)









