Menu ✖

Mode Gelap

Featured

Dari Singkong Rp2 Ribu Jadi Mocaf Rp34 Ribu, Emak-emak Simpang Bayat Merintis Kemandirian Ekonomi Bersama Pertamina

badge-check


					Produk Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi bersama Pertamina PHE Jambi Merang. Foto : Abdullah Toriq/Urban Id Perbesar

Produk Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi bersama Pertamina PHE Jambi Merang. Foto : Abdullah Toriq/Urban Id

Musi Banyuasin — Singkong selama ini lebih sering dipandang sebagai komoditas pertanian dengan nilai jual terbatas. Di Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel), tanaman tersebut justru menjadi pintu masuk bagi 13 perempuan untuk membangun usaha bersama.

Di tangan Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi, singkong tidak lagi sekadar hasil panen yang dijual mentah. Umbi yang dihargai sekitar Rp2.000 per kilogram itu diolah menjadi tepung modified cassava flour (mocaf) hingga aneka camilan. Dari proses sederhana tersebut, mereka berupaya menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar dari potensi pertanian di sekitar tempat tinggalnya.

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Para perempuan yang tergabung dalam KWT Embun Pagi harus belajar mengembangkan usaha, mulai dari memastikan ketersediaan bahan baku, mengolah singkong, menjaga produksi, hingga memperkenalkan hasilnya kepada konsumen.

Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar mengisi waktu luang. Ada harapan untuk memperoleh penghasilan tambahan sekaligus membangun usaha yang dapat terus berjalan.

Ketua KWT Embun Pagi, Rianti, mengatakan kelompoknya pada awalnya lebih banyak bergerak dalam budidaya sayuran. Seiring waktu, mereka melihat singkong sebagai potensi lain yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai jual lebih tinggi.

Pengolahan singkong kemudian menjadi salah satu kegiatan utama kelompok. Para anggota tidak hanya mengandalkan hasil panen, tetapi juga mulai terlibat dalam proses pengolahan agar komoditas tersebut memiliki nilai tambah.

“Alhamdulillah, selama ini mengelola produksi KWT Embun Pagi tidak ada kekurangan singkong. Ini juga mulai tahun ini dipinjami tempat sama PHE Jambi Merang untuk menanam singkong sehingga produksi dapat berkelanjutan,” kata Rianti.

Sepuluh Kilogram Singkong Menjadi Tiga Kilogram Mocaf

Ketua KWT Embun Pagi, Rianti. Foto : Urban Id/Abdullah Toriq

Salah satu perubahan paling nyata terlihat dari nilai jual bahan baku yang mereka olah. Singkong yang dibeli atau dihargai sekitar Rp2.000 per kilogram dapat diproses menjadi tepung mocaf dengan harga jual Rp34.000 per kilogram. Namun, nilai tersebut tidak diperoleh tanpa proses. Dibutuhkan sekitar 10 kilogram singkong untuk menghasilkan tiga kilogram tepung mocaf.

Artinya, kelompok ini tidak hanya menjual hasil pertanian, tetapi juga menciptakan nilai melalui keterampilan pengolahan.

Tepung mocaf menjadi produk utama karena memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai olahan makanan. KWT Embun Pagi kemudian mengembangkan produk turunannya menjadi camilan agar pemanfaatan singkong semakin beragam.

“Lebih utamanya, kita memproduksi tepung mocaf dan turunannya. Kita mencoba mengelola apa yang tersedia untuk menghasilkan nilai lebih dari pemanfaatan singkong,” ujar Rianti.

Produksi dilakukan berdasarkan pesanan yang diterima. Dengan penjualan sekitar dua jenis produk, KWT Embun Pagi mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per minggu.

Nilai tersebut memang belum menjadikan usaha mereka sebagai industri berskala besar. Namun, bagi para anggota, pendapatan itu memiliki arti tersendiri karena dapat menambah pemasukan keluarga dari kegiatan yang mereka bangun bersama.

Alhamdulillah, produksi KWT Embun Pagi bisa menambah pemasukan ibu-ibu di sini. Meski belum terlalu banyak, tapi lumayan menambah pendapatan,” ungkapnya.

Ketika Potensi Lokal Membutuhkan Pendampingan

Field Manager PHE Jambi Merang, Satrio Mursabdo. Foto : Abdullah Toriq/Urban Id

 

Potensi singkong di Simpang Bayat sebenarnya bukan hal baru. Masyarakat telah lama membudidayakan komoditas tersebut. Persoalannya, hasil panen selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk mentah sehingga nilai ekonomi yang diperoleh masih terbatas.

Rianti berharap tepung mocaf dan produk turunannya dapat dipasarkan secara daring. Dengan begitu, produk yang selama ini dikenal di lingkungan sekitar berpeluang menjangkau konsumen dari luar desa.

“Keinginan tersebut juga menjadi alasan kelompok untuk terus memperbaiki kualitas produk dan meningkatkan kemampuan produksi,”kata dia.

Situasi tersebut menjadi salah satu alasan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang memberikan pendampingan kepada KWT Embun Pagi.

Field Manager PHE Jambi Merang, Satrio Mursabdo, mengatakan Simpang Bayat merupakan salah satu desa yang berada di sekitar wilayah operasi perusahaan.

“Karena itu, pengembangan potensi masyarakat menjadi bagian dari perhatian perusahaan,”kata dia.

Menurutnya, KWT Embun Pagi sebenarnya telah memiliki pengalaman mengolah singkong menjadi sejumlah produk. Namun, kelompok tersebut masih membutuhkan dukungan agar kegiatan produksi dapat berkembang dan berjalan secara berkelanjutan.

PHE Jambi Merang kemudian memberikan dukungan melalui bantuan sarana, pendampingan, serta diskusi mengenai pengembangan produk yang sesuai dengan potensi masyarakat.

“Kami melihat bahwa Desa Simpang Bayat ini sudah punya produk lokal. Kami dari PHE Jambi Merang memicu semangat warga, dalam hal ini KWT Embun Pagi, supaya pengolahan produk yang tadinya hanya singkong bisa menjadi produk turunan,” ujar Satrio.

Pendampingan tersebut tidak berhenti pada proses menghasilkan produk. Perusahaan juga mendorong agar hasil olahan masyarakat semakin dikenal dan memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih luas.

Satrio menilai, keberlanjutan menjadi aspek penting dalam pemberdayaan masyarakat. Program yang telah berjalan perlu diarahkan agar masyarakat mampu melanjutkan kegiatan usaha, bahkan ketika pendampingan perusahaan tidak lagi menjadi bagian utama dalam aktivitas produksi.

“Kita ada road map yang dalam hal ini untuk membantu pengembangan yang sudah ada. Kami melakukan pembinaan agar produk turunan ini bisa lebih dikenal masyarakat,” jelasnya.

Bagi PHE Jambi Merang, pengembangan KWT Embun Pagi juga menjadi bagian dari upaya mendukung pemberdayaan masyarakat di desa sekitar wilayah operasional perusahaan.

Satrio mengatakan, program tersebut sejalan dengan dukungan perusahaan terhadap Asta Cita pemerintah, khususnya dalam mendorong penguatan ekonomi masyarakat dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi kelompok perempuan.

“Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mendukung Asta Cita, dalam hal ini kita mendukung KWT Embun Pagi ini,” katanya.

Ia berharap kelompok perempuan di Simpang Bayat semakin memiliki akses terhadap sumber daya, kesempatan berusaha, serta kemampuan mengembangkan produk lokal secara mandiri.

“Kami ingin membawa produk ini agar semakin dikenal dan memiliki branding yang kuat. Mudah-mudahan, melalui kesetaraan gender, terbuka lebih banyak kesempatan dan akses terhadap sumber daya bagi masyarakat di Simpang Bayat,” ujarnya.

Bukan Sekadar Menghasilkan Produk, tetapi Membangun Kemandirian

Perubahan yang dirasakan KWT Embun Pagi juga mendapat perhatian pemerintah desa. Kepala Desa Simpang Bayat, Fathurohman, mengatakan bahan baku singkong yang diolah kelompok tersebut berasal dari hasil pertanian masyarakat setempat.

Menurutnya, pengembangan usaha ini berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas karena menghubungkan petani sebagai penyedia bahan baku dengan kelompok perempuan sebagai pengolah produk.

Ia mengapresiasi dukungan PHE Jambi Merang yang membantu pembangunan rumah produksi, menyediakan peralatan, serta memberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan anggota kelompok.

Dukungan tersebut diharapkan membuat kegiatan produksi lebih terarah sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas.

“Kami tentu berharap produk dari KWT Embun Pagi ini tidak hanya terkenal secara lokal, tetapi juga bisa terkenal secara luas,” ujar Fathurohman.

Camat Bayung Lencir, Zukar, menilai pengolahan singkong menjadi tepung mocaf dan aneka camilan merupakan bentuk inovasi dalam memanfaatkan potensi pertanian desa.

Selama ini, singkong lebih banyak dipasarkan sebagai bahan mentah. Melalui pengolahan, komoditas tersebut dapat memiliki bentuk produk dan nilai jual yang berbeda.

“Jadi, singkong dijual sebagai singkong, tetapi kini bisa diolah menjadi berbagai produk makanan. Inilah bentuk inovasi,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pengembangan usaha tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah produksi. Kualitas produk, kemasan, serta identitas merek juga perlu diperkuat agar mampu bersaing dengan produk dari daerah lain.

“Kita harus berani bersaing dengan produk lain. Potensi ini harus kita angkat menjadi brand Desa Simpang Bayat dan Kecamatan Bayung Lencir, tetapi tentunya harus didukung packaging yang baik dan menarik,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Berjuang Melawan Sakit demi Pelayanan Warga, Lurah 1 Ilir Palembang Tuai Perhatian BKPSDM

28 Oktober 2026 - 20:13 WIB

Cetak Generasi Berkarakter, TP PKK Sumsel dan IIPK Bank Sumsel Babel Edukasi Perempuan Lewat Pengajian

27 Oktober 2026 - 16:45 WIB

Mengubah Gulma Jadi Berkah: Palembang Sulap Eceng Gondok Jadi Kompos Pertanian Pekarangan

26 Oktober 2026 - 16:34 WIB

Ulang Tahun Terlewat, Pelukan Tertunda: Kisah Keluarga Petugas Karhutla Sumsel

23 Oktober 2026 - 14:25 WIB

Intip Kisah Sukses Klaster Lumbung Pangan Bhakti Tani di Palembang, Tumbuh Bersama BRI Melalui Program Klasterku Hidupku

9 April 2026 - 09:54 WIB

Trending di Featured