Palembang — Sebuah peristiwa menyentuh hati terjadi di Kota Palembang. Seorang ibu bernama NR (32) harus melahirkan bayinya di teras musala setelah tak mampu melanjutkan perjalanan menuju rumah bidan. Kisah ini viral di media sosial dan mengundang empati luas dari masyarakat.
Peristiwa itu terjadi di Musala Al Ikhlas, Jalan KH Balqi, Palembang, Senin (12/1/2026) pagi. Saat itu NR bersama suaminya, SK (40), berangkat ke rumah bidan menggunakan sepeda motor pinjaman tetangga. Namun di tengah perjalanan, NR mengalami kontraksi hebat disertai pecah ketuban, sehingga perjalanan tak bisa diteruskan.
Dalam kondisi panik, sang suami berusaha mencari bantuan warga sekitar. NR yang sudah tak kuasa menahan sakit akhirnya dibantu sejumlah warga dan dituntun menuju teras musala terdekat untuk beristirahat sambil menunggu pertolongan medis.
Situasi berubah genting ketika warga menyadari bahwa proses persalinan sudah tidak bisa ditunda. Bukaan telah lengkap dan bayi siap dilahirkan. Tanpa peralatan medis, warga dengan penuh kehati-hatian dan kepedulian membantu proses persalinan menggunakan kain dan pakaian seadanya.
Tak lama kemudian, lahirlah seorang bayi perempuan dengan selamat. Bayi tersebut merupakan anak kelima pasangan NR dan SK. Suasana haru menyelimuti warga yang menyaksikan langsung proses persalinan darurat tersebut.
Bidan bernama Rahayu tiba di lokasi tak lama setelah bayi lahir. Ia segera memberikan penanganan pascamelahirkan, memotong tali pusar, dan membawa bayi ke tempat praktiknya untuk perawatan lebih lanjut. Sementara kondisi sang ibu dipastikan stabil dan sehat.
Salah satu warga, Erlita, mengaku peristiwa itu sangat menegangkan. Namun warga sepakat tidak punya pilihan lain selain membantu demi keselamatan ibu dan bayi.
“Kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk dibawa ke mana-mana. Kami lakukan sebisanya, yang penting ibu dan bayinya selamat,” ujarnya, Selasa (13/1/2026).
Dari pengakuan pasangan tersebut, keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama mereka tak memiliki jaminan kesehatan seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS). Kondisi inilah yang membuat mereka kesulitan mengakses layanan persalinan sejak awal.
Meski lahir di tempat yang jauh dari kata layak, kisah ini menjadi potret kuatnya solidaritas warga sekaligus pengingat pentingnya akses layanan kesehatan yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat.













