Kasus seorang Influencer, Aurelie yang viral di media sosial menjadi contoh nyata bagaimana Child Grooming bisa terjadi tanpa disadari. Aurelie mengalami pendekatan dan manipulasi emosional sejak usia anak.
Child grooming bukanlah kejahatan yang terjadi secara tiba-tiba. Ia berjalan perlahan, halus, dan sering kali tampak “normal”. Justru di situlah letak bahayanya.
Child grooming adalah proses manipulasi yang dilakukan oleh pelaku untuk membangun kedekatan emosional dengan anak, dengan tujuan mengeksploitasi mereka secara seksual, emosional, atau bahkan finansial.
Pelaku grooming bisa siapa saja contohnya, orang asing di internet, teman sebaya yang lebih tua, figur publik, hingga orang yang berada di lingkungan terdekat korban.
Lalu mengapa Child Grooming bisa terjadi? Berikut adalah tanda-tanda Child Grooming.
1. Mencari Target
Pelaku mengincar anak yang terlihat kesepian, kurang perhatian, atau sedang berada dalam kondisi emosional yang rentan. Media sosial sering menjadi pintu masuk utama.
2. Membangun Kepercayaan
Pelaku mulai bersikap baik, memberikan perhatian, pujian, atau dukungan emosional. Anak merasa dihargai dan akhirnya nyaman.
3. Menciptakan Ikatan Emosional
Hubungan dibuat terasa spesial dan eksklusif. Pelaku sering menggunakan kalimat seperti, “Kamu beda dari yang lain” atau “Ini rahasia kita berdua.”
4. Normalisasi Perilaku Tidak Pantas
Percakapan mulai diarahkan ke topik pribadi atau seksual secara perlahan, sering kali dibungkus sebagai candaan atau bentuk kedekatan.
5. Eksploitasi dan Kontrol
Saat anak sudah terikat secara emosional, pelaku mulai meminta hal-hal yang melanggar batas. Jika korban menolak, pelaku bisa memanipulasi dengan rasa bersalah atau ancaman.
Dampak grooming sering kali tidak langsung terlihat. Namun luka yang ditinggalkan bisa sangat dalam dan bertahan lama, seperti rasa takut atau cemas, kehilangan kepercayaan kepada orang lain hingga trauma psikologis jangka panjang.













