PALEMBANG – Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut atau Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) yang lebih dikenal masyarakat sebagai Flu Singapura menunjukkan tren penyebaran yang perlu diwaspadai di Sumatera Selatan. Hingga pekan ke-23 tahun 2026, Dinas Kesehatan Sumsel mencatat sebanyak 523 kasus suspek HFMD tersebar di berbagai kabupaten dan kota.
Kota Palembang menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 102 kasus suspek. Disusul Kabupaten PALI dengan 75 kasus, Musi Banyuasin (Muba) 61 kasus, Kota Prabumulih 58 kasus, serta Kabupaten Lahat dan Muara Enim yang masing-masing mencatat 54 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumsel, Ira Primadesa, menjelaskan bahwa Flu Singapura bukan berasal dari Singapura dan bukan termasuk penyakit influenza seperti yang banyak dipahami masyarakat.
“HFMD merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Coxsackie A16 dan Enterovirus 71. Penyakit ini sangat mudah menular, terutama pada anak usia dini,” ujarnya, Senin (22/6/2026).
Menurut Ira, terdapat beberapa faktor yang membuat Sumatera Selatan cukup rentan terhadap penyebaran HFMD. Salah satunya adalah kondisi iklim tropis yang panas dan lembap, yang menjadi lingkungan ideal bagi enterovirus untuk berkembang.
Selain itu, tingginya interaksi anak-anak di sekolah, terutama tingkat TK dan SD, membuat penularan berlangsung lebih cepat. Virus dapat menyebar melalui percikan batuk atau bersin, air liur, feses, hingga cairan dari bintil yang muncul pada tubuh penderita.
“Jika ada satu anak terinfeksi di dalam kelas, risiko penularan kepada teman-temannya cukup tinggi,” katanya.
Dinkes Sumsel juga menyoroti tempat bermain anak dalam ruangan, lokasi les, hingga kolam renang umum yang berpotensi menjadi titik penyebaran apabila kebersihan tidak terjaga dengan baik.
“Secara klinis, gejala awal HFMD biasanya diawali dengan demam, berkurangnya nafsu makan, anak menjadi rewel, serta nyeri tenggorokan. Selanjutnya muncul sariawan pada lidah, gusi, dan bagian dalam pipi yang membuat anak sulit makan dan minum, ” kata dia.
Beberapa hari kemudian akan muncul ruam merah yang berkembang menjadi bintil berisi cairan pada telapak tangan, telapak kaki, bokong, lutut, atau siku.
Dinkes Sumsel mengingatkan orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala berat seperti kejang, sesak napas, lemas berlebihan, atau tangan dan kaki terasa dingin. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda komplikasi serius yang membutuhkan penanganan medis segera.
Untuk mencegah penyebaran penyakit, anak yang terdiagnosis HFMD dianjurkan menjalani isolasi mandiri selama 7 hingga 10 hari atau hingga seluruh bintil mengering dan kondisi tubuh kembali normal.
“Selain itu, sekolah dan orang tua diminta memperketat penerapan kebersihan dengan membiasakan cuci tangan pakai sabun, melakukan disinfeksi fasilitas belajar, tidak berbagi alat makan dan minum, serta menjaga daya tahan tubuh anak melalui asupan gizi yang baik, “kata dia.
Meski jumlah kasus tertinggi berada di Palembang, terdapat beberapa daerah dengan angka temuan yang sangat rendah. Kabupaten OKI hanya mencatat satu kasus suspek, sementara Muratara, OKU Timur, dan Empat Lawang masing-masing melaporkan tiga kasus selama periode pemantauan.
Berikut adalah rincian urutan sebaran kasus suspek HFMD berdasarkan wilayah di Sumatera Selatan hingga Minggu ke-23 tahun 2026:
1. Kota Palembang : 102 kasus
2. Kabupaten PALI : 75 kasus
3. Kabupaten Muba : 61 kasus
4. Kota Prabumulih : 58 kasus
5. Kabupaten Lahat : 54 kasus
6. Kabupaten Muara Enim : 54 kasus
7. Kota Lubuk Linggau : 49 kasus
8. Kabupaten OKU : 19 kasus
9. Kabupaten Musi Rawas : 17 kasus
10. Kota Pagar Alam : 9 kasus
11. Kabupaten Banyuasin : 8 kasus
12. Kabupaten OKU Selatan : 7 kasus
13. Kabupaten Empat Lawang : 3 kasus
14. Kabupaten OKU Timur : 3 kasus
15. Kabupaten Muratara : 3 kasus
16. Kabupaten OKI : 1 kasus









