Palembang — Lonjakan kasus campak di Sumatera Selatan (Sumsel) pada 2026 menjadi alarm serius bagi dunia kesehatan. Tercatat sebanyak 1.580 kasus ditemukan, dengan Kota Palembang menyumbang angka tertinggi mencapai 800 kasus, termasuk 400 yang telah terkonfirmasi positif.
Kepala Dinas Kesehatan Sumsel, Trisnawarman, menyebut fenomena ini sebagai dampak tertunda dari rendahnya cakupan imunisasi saat pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.
“Pada masa pandemi, banyak orang tua menunda atau bahkan tidak membawa anaknya imunisasi. Dampaknya baru terasa sekarang,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, capaian imunisasi campak yang seharusnya berada di kisaran 95 hingga 100 persen sempat turun drastis menjadi hanya 70–80 persen. Kondisi tersebut menciptakan celah kekebalan di masyarakat yang kini memicu lonjakan kasus secara siklik.
Tak hanya di Palembang, penyebaran juga mulai terdeteksi di daerah lain seperti Musi Rawas dan Prabumulih, meski jumlahnya masih relatif kecil. Namun, potensi peningkatan tetap diwaspadai mengingat penularan campak sangat cepat melalui droplet.
“Campak bukan penyakit ringan. Jika menyerang orang dengan imunitas rendah, dampaknya bisa serius,” tegas Trisnawarman.
Sebagai langkah penanganan, Dinkes Sumsel kini menggencarkan program imunisasi kejar dan pemberian booster di berbagai wilayah. Upaya ini ditujukan untuk menutup kesenjangan kekebalan yang terbentuk sejak pandemi.
“Kami juga mengimbau masyarakat untuk tidak lagi menunda imunisasi, mengingat efek jangka panjangnya dapat memicu wabah di masa mendatang,”kata dia.
Lebih mengkhawatirkan, virus ini tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga kelompok rentan lain seperti ibu hamil dan lansia yang belum memiliki kekebalan. Risiko komplikasi berat pun meningkat jika infeksi terjadi pada kelompok tersebut.














