Sebuah video yang memperlihatkan praktik pengobatan alternatif terhadap seorang bayi mendadak menjadi sorotan publik di media sosial. Dalam rekaman tersebut, seorang perempuan yang dikenal sebagai Ibu Ika tampak melakukan terapi totok dengan menggunakan daun sirih kepada bayi yang terus menangis.
Aksi tersebut memicu gelombang reaksi keras dari warganet. Banyak yang menilai tindakan tersebut tidak manusiawi, mengingat kondisi bayi yang terlihat kesakitan selama proses terapi berlangsung. Video itu pun dengan cepat menyebar dan menjadi perbincangan luas.
Berdasarkan informasi yang beredar, sosok Ibu Ika yang memiliki nama lain Ferizka dikenal sebagai praktisi pengobatan alternatif yang menggunakan metode totok saraf dengan media daun sirih. Praktik tersebut bahkan disebut telah dijalankannya selama bertahun-tahun dan memiliki sejumlah pasien.
Namun, praktik yang dilakukan kepada bayi justru menuai kritik tajam, terutama dari kalangan medis. Seorang dokter spesialis anak, dr. Lucky Sp.A, secara tegas mengecam tindakan tersebut. Ia mempertanyakan izin dari praktik tradisional tersebut.
“Memangnya ada izin?” tulisnya di kolom komentar media sosial.
Kemudian, dari kalangan medis pula yakni seorang dokter anak juga turut mengomentari postingan tersebut, ia mengatakan bahwa tidak ada jurnal ilmiah yang membenarkan tindak pengobatan tersebut.
“Gak ada jurnal ilmiah, gak ada SOP dan gak ada juga perlindungan pasien jika ia lalai. Saran, lebih baik ke fisioterapi sertifikasi aja,” katanya.
Di sisi lain, fenomena pengobatan alternatif menggunakan daun sirih memang bukan hal baru di masyarakat. Namun, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa metode tersebut tidak bisa disamakan dengan prosedur medis yang telah teruji secara ilmiah. Bahkan, penggunaan daun sirih secara langsung pada kulit bayi berisiko menimbulkan iritasi atau infeksi.
Kasus ini kembali membuka diskusi tentang pentingnya literasi kesehatan di tengah masyarakat. Banyak pihak menilai perlunya edukasi yang lebih masif agar masyarakat tidak mudah percaya pada metode pengobatan yang belum terbukti aman, terutama ketika menyangkut anak-anak.
Hingga kini, video tersebut masih beredar luas dan terus memicu perdebatan. Sementara itu, publik menanti langkah tegas dari pihak terkait guna memastikan perlindungan terhadap anak serta mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.















