Palembang — Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan pentingnya pengembangan ekoteologi di lingkungan kampus sebagai upaya membangun kesadaran ekologis di tengah masyarakat. Hal tersebut disampaikan dalam sebuah wawancara terkait peran agama dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Menurutnya, konsep ekoteologi bertujuan menanamkan rasa kasih terhadap seluruh ciptaan Tuhan, baik manusia, hewan, tumbuhan, hingga unsur alam yang selama ini dianggap benda mati seperti batu dan air. Ia menekankan bahwa dalam pandangan Tuhan, tidak ada yang namanya benda mati karena semuanya bertasbih.
“Untuk mengembangkan ekoteologi dalam kampus, diharapkan nanti mencegatkan kesadaran ekologis menyayangi sesama makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala, apakah itu dalam bentuk binatang, tumbuh-tumbuhan, atau bahkan apa yang dipersepsikan benda mati selama ini, batu, air. Padahal dalam pandangan Allah tidak ada benda mati semuanya bertasbih.” ujar Nasaruddin Umar.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap alam. Alam, menurutnya, bukan hanya sekadar objek yang dimanfaatkan, melainkan sahabat dan partner kehidupan manusia. Karena itu, manusia harus menjaga dan bersahabat dengan alam serta tidak merusaknya.
“Karena itu mari kita ubah persepsi kita, memperlakukan alam ini bukan hanya sebagai objek, tetapi juga sekaligus sebagai sahabat/partner kita. Maka kita harus bersahabat dengan alam, jangan merusak alam.” lanjutnya.
Nasaruddin juga menjelaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian penting dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi sekaligus sebagai hamba Tuhan. Kerusakan lingkungan dinilai dapat memengaruhi kualitas kehidupan spiritual manusia.
“Tidak bisa kita menjadi hamba yang ideal kalau lingkungan itu rusak, tidak bisa khusyuk dalam beribadah kalau alam semesta kita ini rusak,” tambahnya.
Selain membahas isu lingkungan, dirinya juga menanggapi pertanyaan terkait persoalan asusila dan kemungkinan adanya regulasi baru dari Kementerian Agama (Kemenag). Ia menyampaikan bahwa Kemenag saat ini masih merumuskan kebijakan terbaik.
“Insyaallah sedang kita rumuskan yang terbaik,” tutupnya.
Artikel ini ditulis oleh Efry mahasiswa UNSRI yang magang di Urban Id









