Palembang – Curah hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Sumatera Selatan dalam beberapa hari terakhir berhasil menekan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bahkan, hingga Kamis (23/7/2026) pukul 05.00 WIB, tidak terpantau satu pun hotspot atau titik panas di wilayah Sumsel berdasarkan data aplikasi Sipongi Kementerian Kehutanan.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan kondisi tersebut menjadi kabar baik di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap ancaman karhutla pada musim kemarau.
“Sejak kemarin hingga pukul 05.00 WIB tadi, tidak ada hotspot yang terpantau di Sumatera Selatan,” ujarnya.
Menurut Sudirman, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang telah meningkatkan kelembapan tanah sehingga lahan yang sebelumnya mulai mengering kembali basah. Kondisi ini membuat material mudah terbakar seperti ilalang, semak, ranting, dan dedaunan kering menjadi lebih sulit memicu kebakaran.
“Selain itu, hujan juga membantu mengisi cadangan air pada kanal, embung, hingga lahan gambut. Ketersediaan air tersebut dinilai mampu memperlambat proses pengeringan lahan apabila dalam beberapa hari ke depan curah hujan kembali berkurang,”kata dia.
Meski demikian, BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak terlena dengan kondisi saat ini. Sebab, musim kemarau masih berlangsung dan potensi karhutla dapat kembali meningkat apabila cuaca kembali panas dalam beberapa hari ke depan.
“Kami tetap mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Kondisi saat ini memang cukup baik karena hujan, tetapi potensi karhutla bisa muncul kembali ketika lahan mulai mengering,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, menjelaskan meningkatnya peluang hujan dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer. Salah satunya adalah aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah Sumatera Selatan yang mendorong pertumbuhan awan konvektif.
“Kondisi tersebut diperkuat oleh suhu muka laut yang relatif hangat di perairan sekitar Sumsel, kelembapan udara yang tinggi, serta atmosfer yang cukup labil sehingga mendukung terbentuknya hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, terutama pada siang hingga malam hari,”kata dia.
Di sisi lain, peluang hujan juga diperkuat melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Program tersebut mengoptimalkan awan potensial dengan penyemaian bahan semai agar proses pembentukan hujan berlangsung lebih efektif.
“Berdasarkan hasil pemantauan selama OMC, pertumbuhan awan potensial hujan cukup baik terdeteksi di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir. Awan-awan tersebut kemudian bergerak ke arah barat laut sehingga berpotensi membawa hujan hingga ke Kota Palembang dan wilayah sekitarnya,”kata dia.









