PALEMBANG – Alunan musik dan suara merdu menggema di aula Sentra Budi Perkasa Palembang, Sabtu (29/8/2026). Puluhan peserta tampil bergantian di atas panggung, berusaha memikat juri dalam ajang Suara Bintang Palembang.
Namun, ada pemandangan berbeda dalam lomba karaoke yang digelar Sentra Budi Perkasa Palembang bersama Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang tersebut.
Di antara peserta yang tampil, terdapat anak-anak dan penerima manfaat Sentra Budi Perkasa dari kelompok disabilitas fisik hingga sensorik netra. Mereka berdiri di panggung yang sama, mendapatkan kesempatan yang sama, dan dinilai dengan standar yang sama seperti peserta lainnya.
Tak ada perlakuan berbeda.
Bagi mereka, panggung tersebut bukan sekadar tempat berkompetisi, tetapi menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membangun keberanian.
Sebelumnya, sebanyak 66 peserta mengikuti penjurian awal pada Rabu (26/8/2026). Dari proses tersebut, terpilih 25 peserta terbaik yang kemudian bersaing dalam babak lanjutan untuk memperebutkan gelar juara.
Instruktur Musik Sentra Budi Perkasa Palembang, Sudarmono, mengatakan keikutsertaan siswa dalam lomba tersebut menjadi bagian dari pengembangan pelayanan vokasional, khususnya di bidang musik.
“Alhamdulillah, siswa kita banyak yang ikut. Sebenarnya kegiatan ini sebagai peningkatan pelayanan vokasional musik di sentra. Berbarengan dengan HUT RI, bergandengan dengan Yayasan Kawan Lamo Palembang,” ujarnya.
Menurut Sudarmono, pengalaman mengikuti kompetisi memberikan dampak positif bagi para siswa. Mereka mendapatkan kesempatan untuk tampil di hadapan orang banyak, sesuatu yang sebelumnya belum tentu pernah mereka lakukan.
“Lebih percaya diri. Yang selama ini belum pernah mengikuti lomba seperti ini, mereka jadi terbuka wawasannya,” katanya.
Dari Panggung, Tumbuh Kepercayaan Diri
Kepala Sentra Budi Perkasa Palembang, Gini Toponindro, menilai kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar mencari pemenang lomba karaoke.
Menurutnya, seni dapat menjadi sarana rehabilitasi sosial sekaligus membuka ruang bagi penerima manfaat untuk mengekspresikan diri.
“Kegiatan ini bukan sekadar lomba menyanyi. Ini adalah ruang ekspresi, ruang bahagia, dan ruang aktualisasi diri bagi para penerima manfaat kami khususnya dan warga Palembang pada umumnya,” kata Gini.
Melalui musik, kata dia, penyandang disabilitas dan siswa Sekolah Rakyat di Sentra Budi Perkasa dapat memperlihatkan kemampuan yang mereka miliki.
Mereka tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga memiliki potensi untuk tampil dan berprestasi.
“Mereka bintang. Mereka berhak tampil, berhak diapresiasi, dan berhak bahagia,” tegasnya.
Gini berharap kolaborasi semacam ini tidak berhenti pada satu kegiatan. Sebab, rehabilitasi sosial menurutnya bukan hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga bagaimana meningkatkan kualitas hidup, kepercayaan diri dan rasa kebersamaan.
Membuka Ruang agar Disabilitas Lebih Dikenal
Ketua Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang, M Fitriansyah, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi salah satu upaya membuka ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan bakatnya.
Ia mengaku menemukan banyak talenta di lingkungan Sentra Budi Perkasa yang layak mendapatkan kesempatan tampil di ruang publik.
“Kita merasa terpanggil untuk berkolaborasi dan banyak rekan-rekan disabilitas di Sentra Budi Perkasa Palembang yang punya bakat luar biasa. Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang mengapresiasi itu,” ujarnya.
Menurut Fitriansyah, kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana memperkenalkan keberadaan Sentra Budi Perkasa kepada masyarakat Sumatera Selatan yang mungkin belum banyak mengetahuinya.
Ia berharap para siswa maupun tenaga pendidik di Sentra Budi Perkasa dapat semakin dikenal dan memperoleh kesempatan yang setara dengan pelaku seni dan budaya lainnya.
“Kita ingin Sentra Budi Perkasa Palembang, baik murid dan gurunya bisa lebih dikenal dan setara dengan pekerja seni budaya lainnya di sini,” katanya.
Selain penyandang disabilitas, Sentra Budi Perkasa juga memberikan pelayanan kepada berbagai kelompok penerima manfaat, termasuk masyarakat yang membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kemandirian.
Fitriansyah menilai pelayanan tersebut perlu terus dikenalkan kepada publik agar semakin banyak masyarakat memahami peran sentra dalam mendampingi penerima manfaat.
Dinilai Musisi Sumsel
Kualitas para peserta dalam Suara Bintang Palembang juga diuji oleh jajaran juri yang berasal dari kalangan musisi dan pekerja seni berpengalaman.
Lima juri yang terlibat yakni M Fitriansyah selaku Ketua Dewan Juri, mentor Musi Lady Rock (MLR) Dewi Asta, Ketua Komunitas Pengamen Jalanan (KPJ) MA Loedy, DPD Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik RI (PAPRI) Sumsel Andre Usman, serta musisi senior sekaligus Humas Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang Tety Masayu.
Kehadiran para musisi tersebut membuat panggung Suara Bintang tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan pengalaman berkompetisi di hadapan para pelaku seni.
Pada akhirnya, siapa yang menjadi juara bukan satu-satunya cerita dari panggung tersebut.
Bagi para siswa Sentra Budi Perkasa, keberanian naik ke atas panggung, menyanyikan lagu di depan juri dan penonton, serta mendapatkan apresiasi sudah menjadi kemenangan tersendiri.









