Menu ✖

Mode Gelap

News

Gagal Temui Herman Deru, Mahasiswa Segel Kantor Gubernur dan Nyatakan Mosi Tidak Percaya

badge-check


Gagal Temui Herman Deru, Mahasiswa Segel Kantor Gubernur dan Nyatakan Mosi Tidak Percaya Perbesar

PALEMBANG — Kekecewaan terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap di Sumatera Selatan (Sumsel) berujung pada aksi penyegelan simbolis Kantor Gubernur Sumsel, Rabu (21/10/2026).

Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara se-Sumsel juga menyatakan mosi tidak percaya terhadap Gubernur Herman Deru setelah gagal menggelar dialog langsung dengan kepala daerah tersebut.

Aksi yang diikuti ratusan mahasiswa itu awalnya ditujukan untuk menagih penjelasan pemerintah provinsi mengenai penanganan karhutla, termasuk penggunaan bantuan presiden (banpres) senilai Rp100 miliar dan efektivitas penyemaian dry ice dalam mengatasi kabut asap.

Namun, absennya Herman Deru saat mahasiswa mendatangi kantor gubernur memicu kekecewaan massa. Mereka menilai kehadiran gubernur diperlukan untuk menjawab tuntutan sekaligus membahas langkah konkret menghadapi kabut asap yang kembali menyelimuti Kota Palembang dalam dua hari terakhir.

“Hari ini seharusnya kami berdialog dan mencari langkah konkret dalam penanganan karhutla di Provinsi Sumatera Selatan. Tapi Gubernur Provinsi Sumatera Selatan tidak ada di tempat,” ujar Koordinator BEM Nusantara se-Sumsel, Ilham, di tengah aksi.

Karena tidak berhasil menemui gubernur, Ilham bersama sejumlah pimpinan organisasi mahasiswa lintas kampus menyatakan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Herman Deru.

“Oleh karena itu, kami dari Aliansi BEM Nusantara Provinsi Sumatera Selatan menaikkan tagline mosi tidak percaya terhadap Gubernur Provinsi Sumatera Selatan,” tegasnya.

Mahasiswa kemudian membentangkan spanduk sebagai tanda penyegelan simbolis kantor gubernur. Aksi tersebut mendapat dukungan dari pimpinan mahasiswa sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas IBA, UIN Raden Fatah, Polprama, dan Universitas Tamansiswa Palembang.

“Hari ini menetapkan Kantor Gubernur Provinsi Sumatera Selatan dinyatakan disegel oleh rakyat,” ucap Ilham.

Dana Rp100 Miliar dan Dry Ice Jadi Sorotan

Selain mempersoalkan absennya gubernur, mahasiswa mempertanyakan transparansi penggunaan dana banpres karhutla sebesar Rp100 miliar. Mereka meminta pemerintah menjelaskan alokasi bantuan untuk daerah terdampak serta dampaknya terhadap penanganan kebakaran.

“Ke mana dana banpres Rp100 miliar kemarin, katanya sudah dibagikan ke wilayah-wilayah terdampak,” ujar Ilham saat berorasi.

Mahasiswa juga mengkritik penggunaan dry ice dalam operasi modifikasi cuaca (OMC). Mereka menilai teknologi tersebut belum menunjukkan dampak signifikan terhadap kepekatan kabut asap yang dirasakan masyarakat.

“Dry ice, dry ice, apa itu dry ice tidak ada efeknya,” cetusnya.

Kekecewaan massa sempat memuncak ketika sejumlah demonstran berniat membakar ban bekas sebagai bentuk protes. Namun, aparat kepolisian yang mengawal aksi segera menghentikan upaya tersebut sehingga pembakaran tidak berlangsung.

Ilham kemudian membandingkan respons cepat aparat terhadap rencana pembakaran ban dengan penanganan karhutla yang menurutnya belum memberikan penyelesaian memadai.

“Ngeliat kami mau bakar ban cepat sekali dihentikan, nggak sampai semenit. Tapi giliran karhutla sampai sekarang tidak terselesaikan,” tegasnya.

Mahasiswa Tuntut Komitmen Pemerintah

Sekretaris Daerah Sumsel Edward Candra bersama jajaran terkait sebelumnya telah menemui massa untuk menerima aspirasi. Namun, pertemuan tersebut belum memenuhi keinginan mahasiswa yang meminta berdialog langsung dengan Herman Deru.

Sebelumnya, massa bahkan mendesak Edward melakukan panggilan video dengan gubernur untuk memastikan keberadaan kepala daerah yang diinformasikan sedang bertugas di luar kota.

Mahasiswa menegaskan tuntutan mereka tidak hanya berkaitan dengan kehadiran gubernur, tetapi juga menyangkut transparansi anggaran dan komitmen pemerintah dalam mengatasi karhutla serta dampak kabut asap.

Dalam orasinya, massa meneriakkan seruan agar gubernur memenuhi janji penanganan bencana yang berdampak terhadap masyarakat Sumsel.

“Hidup rakyat Indonesia! Hidup perempuan Indonesia! Hidup mahasiswa! Tidak percaya kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Mundur gubernur! Hari ini gubernur kami tagih janjinya,” pungkas Ilham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ratu Dewa Dorong Pesantren Jadi Motor Ekonomi Umat dan Benteng Moral Generasi Muda

21 Oktober 2026 - 19:39 WIB

BMKG Tegaskan Dry Ice Bukan Penyerap Asap Karhutla, Ini Fungsi Sebenarnya.

21 Oktober 2026 - 17:41 WIB

Film Anak Indonesia Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua Raih Penghargaan Global Peace and Friendship, Siap Diputar di Festival Film Eropa

21 Oktober 2026 - 14:55 WIB

Dari Merawat Pasien hingga Melawan Kebakaran Hutan 

21 Oktober 2026 - 14:29 WIB

Pendorong Ekonomi Daerah: Bank Mandiri Region II Kucurkan Rp21,8 Triliun Kredit UMKM per September 2026

20 Oktober 2026 - 17:30 WIB

Trending di News