PALEMBANG — Keputusan menentukan waktu dan lokasi melaut tidak hanya berpengaruh terhadap keselamatan nelayan, tetapi juga produktivitas hasil tangkapan. Karena itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendorong nelayan di Sumatera Selatan (Sumsel) memanfaatkan informasi cuaca sebagai dasar perencanaan aktivitas perikanan.
Upaya tersebut dilakukan melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) 2026 yang diselenggarakan Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang di Aula Rumah Dinas Wali Kota Palembang, Selasa (27/10/2026).
Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Siswanto, mengatakan pemahaman terhadap informasi cuaca dan iklim dapat membantu nelayan mengambil keputusan secara lebih tepat sebelum berangkat maupun selama melakukan aktivitas penangkapan ikan.
“Sekolah Lapang Cuaca Nelayan merupakan salah satu upaya BMKG untuk mendekatkan informasi meteorologi dan klimatologi dengan kebutuhan masyarakat yang aktivitas ekonominya sangat dipengaruhi oleh kondisi alam,” ujar Siswanto.
Menurutnya, literasi cuaca menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko kecelakaan di perairan. Nelayan perlu memahami informasi prakiraan cuaca, mengenali potensi cuaca ekstrem, serta mengetahui cara memanfaatkan peringatan dini sebelum menentukan keputusan melaut.
Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya diperkenalkan dengan produk informasi cuaca BMKG, tetapi juga diharapkan mampu menerjemahkan informasi tersebut menjadi pertimbangan praktis dalam kegiatan sehari-hari.
“Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya mengenal produk informasi cuaca, tetapi juga mampu memahami, menerjemahkan, dan memanfaatkannya sebagai dasar pengambilan keputusan sebelum dan selama melakukan aktivitas penangkapan ikan,” jelasnya.
Cuaca Berpengaruh terhadap Efektivitas Melaut
Siswanto menjelaskan, informasi cuaca yang akurat dapat membantu nelayan mempertimbangkan waktu dan lokasi penangkapan ikan. Dengan perencanaan yang lebih baik, kegiatan melaut diharapkan berlangsung lebih efektif tanpa mengabaikan faktor keselamatan.
Bagi nelayan yang menggantungkan penghidupan pada kondisi alam, cuaca buruk dapat meningkatkan risiko perjalanan sekaligus mengganggu kegiatan penangkapan ikan. Oleh sebab itu, keputusan melaut perlu mempertimbangkan kondisi perairan dan peringatan dini, bukan semata-mata mengejar hasil tangkapan.
Melalui SLCN 2026 bertema Nelayan Hebat, Aman dan Sejahtera, BMKG ingin mendorong peningkatan kemampuan nelayan dalam mengelola risiko cuaca sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat perikanan di Sumsel.
Pemanfaatan informasi cuaca diharapkan dapat membantu nelayan menyusun rencana operasional, mempersiapkan perlengkapan keselamatan, serta menghindari perjalanan ketika kondisi perairan tidak mendukung.
Libatkan Berbagai Instansi
Pelaksanaan SLCN 2026 turut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Dinas Perikanan Kota Palembang, Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Palembang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kansar) Palembang, perwakilan Stasiun Klimatologi Sumsel, serta Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) dan TVRI Sumatera Selatan.
Keterlibatan lintas sektor tersebut dinilai penting untuk memperluas jangkauan informasi cuaca dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi keadaan darurat di perairan.
Siswanto mengatakan, sinergi antara lembaga pemerintah, unsur keselamatan, dan media massa dibutuhkan agar informasi peringatan dini cuaca ekstrem dapat diterima masyarakat secara cepat dan tepat sasaran.
“Kami berharap pengetahuan yang diperoleh melalui sekolah lapang dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh para nelayan, termasuk dengan membagikan informasi cuaca kepada sesama nelayan di lingkungan mereka,”kata dia.









