Deru langsung meminta laporan mengenai lokasi yang masih menjadi penyumbang titik panas untuk mengetahui sumber kabut asap yang kembali muncul.
“Iya tadi saya juga terkejut, ini kok masih kabut asap. Saya mau minta laporan dari BPBD dulu di mana yang masih penyumbang hotspot? Apa nomor polisinya?” kata Deru, Jumat (25/9/2026).
Menurut Deru, pemerintah tidak berhenti melakukan berbagai langkah untuk menekan karhutla. Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan dengan memanfaatkan potensi awan hujan.
“Saya sudah instruksikan selaras dengan imbauan BMKG. Informasi BMKG bahwa kita ini baru dapat hujan itu di awal November,” katanya.
Ia menyebut OMC menjadi salah satu strategi yang terus digunakan pemerintah selama masih terdapat peluang terbentuknya awan hujan. Bahkan, operasi dapat dilakukan kapan pun ketika kondisi memungkinkan.
“Maka konsep terbaik adalah OMC, Operasi Modifikasi Cuaca. Meskipun biayanya tidak murah, kita sudah lakukan sudah lebih dari 60 kali untuk OMC,” ujarnya.
Deru mengatakan pelaksanaan OMC sebelumnya sempat diikuti penurunan hotspot di sejumlah daerah. Karena itu, pemerintah akan kembali melakukan operasi apabila terdapat bibit awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Waktu pelaksanaan pun tidak menjadi kendala selama kondisi cuaca mendukung.
“Kalau ada bibit hujan, saya sudah bilang sama komandan pangkalannya, kalau ada bibit hujan, mau tengah malam kita OMC,” katanya.
Namun, upaya penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada operasi udara. Deru menilai pencegahan di tingkat masyarakat juga menjadi bagian penting untuk mengurangi munculnya sumber api baru.
Ia mencontohkan masih adanya aktivitas pembakaran lahan yang ditemuinya di kawasan perkotaan.
“Kemarin contoh, saya habis ngantar cucu sekolah. Lah kok di tengah kota ada orang bakar-bakar di kebunnya, itu kan kesadaran,” katanya.
“Saya akan bersurat. Ini di DLHP ada, saya akan suruh buatkan edaran ke bupati wali kota itu untuk mengingatkan masyarakat atas peningkatan kesadaran untuk tidak membakar apa pun di halaman rumah,” ujarnya.
PALI menjadi wilayah dengan angka ISPU tertinggi, yakni 180, disusul Musi Rawas 168 dan Palembang 160. Sementara Musi Banyuasin berada di angka 108, Lahat 120 dan Muara Enim 61.
Prabumulih tercatat memiliki ISPU 71 dan berada dalam kategori sedang.
Data tersebut menunjukkan enam wilayah berada dalam kategori tidak sehat, sedangkan Prabumulih dan Muara Enim masih berada dalam kategori sedang.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan, kualitas udara Palembang mulai memburuk sejak dini hari. Bahkan, konsentrasi PM2.5 sempat kembali masuk kategori berbahaya.
“Kualitas udara pada dini hari sempat masuk kategori berbahaya dengan angka PM2.5 sebesar 264,5 µg/m³ pukul 01.00 WIB,” ujar Wandayantolis, Jumat (25/9/2026).
Angka tersebut kemudian berangsur turun pada pagi hari. Namun, penurunan konsentrasi partikulat belum cukup untuk membuat kualitas udara kembali aman.
“Tapi, angkanya masih tetap di atas 200 µg/m³ atau sangat tidak sehat,” jelasnya.
Hingga pukul 09.00 WIB, konsentrasi PM2.5
tercatat 162,4 µg/m³. Angka tersebut masih berada pada kategori merah atau sangat tidak sehat.
Wandayantolis menyebut kondisi udara Palembang tidak terlepas dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan sekitarnya.
“Karhutla di OKI dan sekitarnya masih menjadi penyebab asap,” tambahnya.









