PALEMBANG – Harapan membaiknya kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan, masih dibayangi ancaman kabut asap karhutla. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan ringan hingga sedang berpotensi turun pada 10 Oktober 2026, tetapi kondisi tersebut diperkirakan belum cukup untuk mengakhiri kabut asap dalam waktu dekat.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengatakan hujan berpeluang terjadi pada malam hingga dini hari. Curah hujan tersebut dapat membantu meluruhkan sebagian partikel polutan di udara sehingga jarak pandang berpotensi membaik untuk sementara.
Namun, setelah 10 Oktober, cuaca di Palembang dan sekitarnya diprakirakan didominasi kondisi berawan tanpa potensi hujan signifikan selama sekitar satu pekan.
“Potensi hujan ini diprakirakan akan sedikit membantu meluruhkan partikel polutan di udara sehingga dapat meningkatkan jarak pandang untuk sementara waktu,”kata dia, Jumat (9/10/2206).
Minimnya peluang hujan lanjutan membuat kondisi kabut asap perlu diwaspadai. Apabila kebakaran masih berlangsung dan asap terus terbawa angin menuju Palembang, jarak pandang berpotensi kembali menurun, terutama pada pagi hari.
“BMKG juga mencatat terdapat 3.328 titik panas di Sumatera Selatan pada 8 Oktober 2026. Wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) secara khusus menjadi perhatian karena tingginya aktivitas titik panas,”kata dia.
Selain banyaknya titik panas, arah pergerakan asap turut memengaruhi kondisi udara di Palembang.
“Berdasarkan citra sebaran asap pada 8 Oktober, asap terdeteksi bergerak ke arah barat laut hingga utara. Pola tersebut sejalan dengan arah angin yang umumnya bertiup dari timur hingga tenggara menuju barat laut dan utara,”kata dia.
Kondisi ini berpotensi membawa asap dari wilayah terdampak karhutla menuju Palembang dan sekitarnya.
“Kombinasi antara tingginya titik panas, minimnya hujan, dan arah pergerakan asap membuat jarak pandang di Palembang berisiko tetap rendah meskipun hujan sempat turun,”kata dia.
Penurunan jarak pandang juga berpotensi mengganggu operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang.
Siswanto menjelaskan, kondisi jarak pandang yang memburuk dapat menyebabkan keterlambatan jadwal penerbangan, baik untuk pesawat yang berangkat dari Palembang maupun yang menuju Palembang.
“Gangguan terutama perlu diwaspadai apabila jarak pandang pada pagi hari berada di bawah batas yang dipersyaratkan untuk proses lepas landas dan pendaratan,”kata dia.









