PALEMBANG – Banyaknya tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan kebun sawit belum otomatis menjamin pendapatan pekebun meningkat. Cara menentukan tingkat kematangan, memanen hingga menangani TBS setelah dipotong menjadi faktor penting yang ikut menentukan kualitas dan nilai jual.
Persoalan inilah yang menjadi perhatian dalam Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 di Palembang, 24–29 Agustus 2026.
Sebanyak 111 pekebun dari Musi Rawas dan Muara Enim mengikuti pelatihan tersebut. Mereka terdiri dari 51 peserta asal Musi Rawas dan 60 peserta dari Muara Enim.
Pelatihan diselenggarakan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), serta melibatkan Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan dan dinas perkebunan di masing-masing kabupaten.
Tidak hanya belajar teori, para pekebun juga diajak melihat langsung praktik pengelolaan sawit di lapangan.
Pada 27 Agustus 2026, peserta mengunjungi PT Binasawit Makmur (BSM) dan PT Perkebunan Minanga Ogan. Di sana mereka melihat penerapan teknik panen dan pascapanen serta pengelolaan TBS sebelum dibandingkan dengan praktik yang selama ini dilakukan di kebun masing-masing.
Kepala Bagian Usaha Hulu Pusat Penelitian Kelapa Sawit PT RPN, Fandi Hidayat, P.Hd., mengatakan kemampuan panen dan pascapanen merupakan bagian penting dalam mengoptimalkan potensi produksi kebun.
“Pelatihan ini merupakan bagian penting, terutama dalam hal kita menggali potensi produksi yang ada di lahan Bapak dan Ibu sekalian,” kata Fandi saat membuka pelatihan di Palembang, Selasa (25/8/2026).
Menurut dia, produktivitas kebun tidak semata-mata ditentukan luas lahan. Kemampuan pekebun dalam mengelola setiap tahapan produksi juga menjadi penentu.
Karena itu, Fandi mendorong peserta tidak berhenti pada pemahaman selama pelatihan, tetapi menerapkannya ketika kembali mengelola kebun.
“Ilmu yang diperoleh pada kegiatan ini dapat diterapkan, diimplementasikan ketika nanti Bapak dan Ibu sudah kembali ke tempat masing-masing,” ujarnya.
Kualitas TBS dan Posisi Tawar Pekebun
Kabid Produksi Tanaman Perkebunan sekaligus Sekretaris Tim SDMP Kabupaten Musi Rawas, Suratno,, mengatakan peningkatan produktivitas harus dibarengi penerapan Good Agricultural Practices (GAP).
Menurutnya, pengalaman turun-temurun tetap penting, tetapi pekebun perlu memperkuatnya dengan pengetahuan dan keterampilan teknis.
“Tujuan dari pelatihan SDM ini tidak lain adalah untuk meningkatkan pemahaman, kemampuan sesuai dengan petani sawit kita sesuai dengan GAP (Good Agricultural Practices), dan juga meningkatkan kemampuan petani dalam berkebun khususnya untuk pengelolaan pascapanen,” katanya.
Hal tersebut menjadi semakin penting bagi pekebun sawit mandiri karena kualitas TBS berkaitan dengan nilai ekonomi yang diterima.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Muara Enim, Isdrin, S.T., mengatakan masih terdapat persoalan yang dihadapi pekebun, mulai dari produksi hingga panen dan pascapanen.
Ia meminta peserta tidak sekadar mengikuti materi, tetapi menjadikan pelatihan sebagai ruang untuk membahas persoalan yang benar-benar terjadi di kebun.
“Silakan diskusikan apa yang menjadi persoalan atau kendala para petani, khususnya untuk meningkatkan produksi, pengelolaan panen kemudian pascapanen,” ujarnya.
Isdrin juga menyoroti persoalan akses pasar dan posisi tawar. Pekebun sawit mandiri di Muara Enim masih menghadapi perbedaan harga TBS dibandingkan pekebun yang memiliki kemitraan dengan pabrik kelapa sawit (PKS).
Kondisi tersebut membuat peningkatan produksi saja tidak cukup. Pekebun juga perlu memastikan TBS yang dihasilkan memiliki kualitas baik dan dikelola sesuai standar agar memiliki nilai ekonomi yang lebih optimal.
111 Pekebun Didorong Jadi Penggerak
Pelatihan berlangsung dalam empat batch, yakni angkatan empat dan lima untuk pekebun Musi Rawas serta angkatan 10 dan 11 untuk Muara Enim.
Materi tidak diarahkan hanya untuk meningkatkan kemampuan individu peserta. Mereka juga diharapkan menjadi sumber pengetahuan baru bagi pekebun lain di daerah masing-masing.
Suratno mengatakan peserta dapat menularkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan kepada pekebun lain sehingga dampaknya tidak berhenti pada 111 orang peserta.
Pelatihan panen dan pascapanen ini juga menjadi bagian dari rangkaian penguatan SDM sawit di Musi Rawas.
Sebelumnya, sebanyak 227 pekebun telah mengikuti pelatihan teknis budidaya dalam tujuh kelas. Sementara sekitar 13 peserta dijadwalkan mengikuti pelatihan pemetaan pada awal September.









