PALEMBANG – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) menghadapi kendala di tengah tingginya jumlah titik panas. Dari delapan helikopter water bombing yang disiapkan, baru empat unit milik mitra Asia Pulp & Paper (APP) yang telah beroperasi, sedangkan empat helikopter dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih menunggu jarak pandang memungkinkan untuk terbang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Muhammad Iqbal Alisyahbana, mengatakan helikopter milik Mitra APP telah dikerahkan untuk memadamkan api di sejumlah lokasi, terutama di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
“Hari ini helikopter dari Mitra APP sudah terbang semua, empat unit. Pemadaman dilakukan di wilayah Sungai Ceper dan Sungai Batang serta sejumlah wilayah di OKI,” kata Iqbal, Jumat (9/10/2026).
Sementara itu, empat helikopter BNPB belum dapat menjalankan operasi karena jarak pandang masih berada di bawah 1.000 meter. Padahal, armada tersebut telah disiapkan untuk membantu pemadaman dari udara.
BPBD Sumsel terus memantau kondisi cuaca dan jarak pandang. Apabila situasi memungkinkan, terutama setelah pukul 14.00 WIB, helikopter BNPB akan dikerahkan untuk memperkuat operasi.
OKI Jadi Prioritas Pemadaman
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumsel, terdapat 3.311 titik panas di Sumsel. Kabupaten OKI menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 2.063 titik.
Tingginya jumlah titik panas di OKI menjadi salah satu alasan wilayah tersebut diprioritaskan dalam penanganan karhutla. Menurut Iqbal, asap dari kebakaran di kawasan itu turut terbawa angin hingga memengaruhi kualitas udara di Palembang.
“Karena itu, dalam penanganan karhutla ini, fokus kita di OKI,” ujarnya.
Untuk mempercepat penanganan, personel gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni, dan unsur terkait terus dikerahkan ke lokasi kebakaran, termasuk Kecamatan Cengal. Penambahan personel dilakukan untuk memperkuat pemadaman di darat, sementara dukungan helikopter difokuskan ke wilayah yang membutuhkan penanganan.
Lahan Gambut Mengering, Sumber Air Terbatas
Selain kendala jarak pandang, kondisi lahan yang kering turut mempersulit pemadaman. Iqbal menyebut sejumlah kawasan di OKI didominasi lahan gambut dan sulit dijangkau. Keterbatasan sumber air juga menjadi tantangan setelah wilayah tersebut dilaporkan tidak mengalami hujan selama lebih dari tiga bulan atau sekitar 90 hari.
“Di OKI banyak lahan gambut, lokasinya sulit dijangkau. Sumber air juga menjadi kendala karena sudah lebih dari tiga bulan tidak ada hujan sehingga kondisi lahan sangat kering,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla membutuhkan kombinasi operasi udara dan darat. Helikopter digunakan untuk menjatuhkan air ke titik kebakaran, sedangkan personel di lapangan berupaya menjangkau lokasi yang sulit diakses.
Di luar delapan helikopter water bombing, BPBD Sumsel juga menyiapkan satu helikopter untuk patroli udara dan satu unit lainnya untuk mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC). Namun, pelaksanaan OMC masih menunggu pertumbuhan awan yang sesuai serta rekomendasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Iqbal menyampaikan apresiasi atas dukungan Mitra APP dalam membantu penanganan karhutla. BPBD Sumsel akan terus mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk mempercepat pemadaman, khususnya di OKI yang menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi.









