Diduga Terkena Virus ASF, Ribuan Babi Ternak di Palembang Mati

0
Hewan Babi Ternak (Foto : Istimewah)

Urban ID - Ribuan ekor babi ditemukan mati akibat penyakit Africa Swine Faver (ASF) atau demam babi Afrika. Penemuan babi tersebut di peternakan di kawasan Talang Buruk, Kilometer 7, Sumatra Selatan, Palembang dan kematian babi itu baru diketahui dua pecan setelah Idul Fitri atau tepatnya 15 Juni 2020 lalu.

Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Sumsel, drh Jafrizal mengatakan jika tim dari Balai Veteriner Lampung telah datang ke peternakan untuk mengambil sampel ribuan babi, namun pada saat datang hewan tersebut sudah habis.

‘‘Jadi para tim hanya mengambil sampel kotoran dari babi tersebut untuk di teliti apakah benar hewan tersebut mati karena virus ASF,’’ujarnya, Sabtu (4/7).

Sebelumnya jika dirinya mendapat informasi terkait  banyaknya babi mati mendadak sebanyak  878 babi, selanjutnya babi dikubur  oleh pemiliknya agar wabah tidak meluas. Jefrizal  menjelaskan jika penyakit demam babi afrika  merupakan penyakit yang menyerang sesama babi dengan masa inkubasi 4 sampai 14 hari, namun tidak berbahaya bagi manusia karena penularannnya antar manusia.

“Kita memastikan terlebih dahulu dari hasil pemeriksaan sampel apakah ribuan babi mati lantaran virus ASF atau H1n1,”jelasnya.

Dengan kejadian ini, pihaknya berharap ke depan peternak babi dapat melapor jika kembali akan beternak agar dinas peternakan dan balai veteriner dapat melakukan pengecekan terlebih dahulu, karena diakuinya para peternak babi selama ini tidak pernah melapor sehingga saat ada kematian pihaknya tidak dapat mengambil sampel langsung.

“Banyak peternak yang takut karena masa virus itu bisa bertahan tiga bulan di kandang. Oleh sebab itu kami usulkan bagi peternak dapat mengurus administrasi kesehatan terlebih dahulu juga izinya,”katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Pangan Kota Palembang, Sayuti mengatakan pihaknya masih menunggu hasil sampel dari balai veteriner yang diperkirakan akan memakan waktu satu minggu. Sebelumnya diakuinya jika pihaknya bersama balai saat pengambilan sampel juga sempat kesulitan karena tidak lagi menemui babi yang berpenyakit.

“Kami pun ambil sampel yang ada seperti darah sisa babi, kotoran, dan daging babi yang berada di pasar. Selanjutnya kita tunggu hasil pemeriksaan,” tandas dia.

Untuk diketahui virus demam babi afrika ini sendiri baru pertama kali terjadi di Kota Palembang. Sedangkan wabah di provinsi lain juga sempat terjadi seperti di Sumatera Utara, Batam, Lampung dan Bali. Menurutnya, para peternak babi sendiri membeli bibit dari luar wilayah untuk dibesarkan di Palembang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here