Menu

Mode Gelap

News

Dinas PPPA Sumsel Sebut Korban LGBT Perlu Dirangkul, Bukan Dijauhi

badge-check


Dinas PPPA Sumsel Sebut Korban LGBT Perlu Dirangkul, Bukan Dijauhi Perbesar

PALEMBANG – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Sumsel mengajak masyarakat untuk tidak memberikan stigma negatif terhadap individu yang teridentifikasi dalam kelompok LGBT. Sebaliknya, pendekatan pendampingan, pembinaan, dan dukungan sosial dinilai menjadi langkah yang lebih efektif untuk mencegah persoalan tersebut berkembang lebih luas.

Kepala Dinas PPPA Sumsel, M. Zaki Aslam, menegaskan bahwa mereka yang saat ini tengah menjalani proses pengobatan dan pendampingan tidak boleh dikucilkan dari lingkungan sosial.

Menurutnya, perlakuan diskriminatif justru berpotensi membuat mereka semakin tertutup dan sulit dijangkau oleh program pembinaan maupun layanan kesehatan yang disiapkan pemerintah.

“Kita tidak boleh memberikan stigma yang buruk. Mereka tetap manusia, saudara kita, yang harus dirangkul dan diberikan pendampingan yang baik,” ujar Zaki usai rapat koordinasi lintas sektor di Palembang, Rabu (24/6/2026).

Berdasarkan data yang dihimpun dari sektor kesehatan, saat ini terdapat ratusan orang yang sedang menjalani pengobatan dan pendampingan. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk memperkuat upaya pencegahan sekaligus pendekatan kemanusiaan.

Zaki menjelaskan, tantangan saat ini semakin kompleks karena perkembangan teknologi digital membuat aktivitas dan komunikasi kelompok tertentu lebih sulit terdeteksi. Berbagai platform daring disebut dimanfaatkan untuk membangun jaringan dan berinteraksi dengan identitas yang tidak mudah dikenali.

Karena itu, Pemprov Sumsel menilai penanganan persoalan ini tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak mulai dari keluarga, sekolah, tokoh agama, pemerintah, hingga media massa.

“Kita harus mengedepankan edukasi dan pendampingan. Jangan sampai mereka merasa terasing karena justru akan semakin sulit disentuh oleh program pembinaan,” katanya.

Pemerintah juga menaruh perhatian besar terhadap kelompok usia produktif dan kalangan remaja yang dinilai rentan terpapar pengaruh lingkungan maupun informasi digital yang tidak terkontrol. Oleh sebab itu, keluarga diminta memperkuat komunikasi dan pengawasan terhadap anak-anak serta remaja.

Selain itu, pendekatan kesehatan mental, kesehatan fisik, dan pembinaan keagamaan akan terus didorong sebagai bagian dari strategi pencegahan yang lebih komprehensif.

Dirinya berharap masyarakat dapat berperan aktif menciptakan lingkungan yang peduli dan suportif tanpa mengabaikan nilai-nilai sosial, budaya, maupun agama yang berlaku. Dengan pendekatan yang lebih humanis, pemerintah optimistis upaya pencegahan dan pembinaan dapat berjalan lebih efektif.

“Yang utama adalah pendampingan. Jangan mengasingkan mereka, tetapi berikan perhatian, bimbingan, dan pendekatan yang baik agar mereka mendapatkan masa depan yang lebih baik,” tutup Zaki.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Prabowo Terima Lencana Emas Adi Bhakti Tani Nelayan Maha Utama dari KTNA Nasional

25 Juni 2026 - 14:28 WIB

Terkunci dari Luar, Tiga Anak Nyaris Jadi Korban Kebakaran di Palembang

25 Juni 2026 - 13:31 WIB

Raih Penghargaan Cita Loka Fest 2026, Program Palembang Gercep Diakui Secara Nasional

25 Juni 2026 - 11:56 WIB

Bentengi Gen Z dari Radikalisme, Wali Kota Palembang Ajak Teladani Sejarah NU dan Perkuat Karakter Aswaja

25 Juni 2026 - 11:54 WIB

Herman Deru Sambut Investor China, Jajaki Kerja Sama Pembangunan PLTA di OKU Selatan

25 Juni 2026 - 11:16 WIB

Trending di News