Dirjen Pendis dan Direktur PTKI Lakukan Pembinaan di Palembang

0

Urban ID - class="p1">Sebuah kesempatan penting, berharga, dan langka diperoleh aparatur sipil negara (ASN) Kemenag Sumsel, khususnya ASN Jajaran Pendidikan Islam.

Bertempat di Aula MAN 3 Palembang, Jumat (23/10) siang, mereka mendapat wejangan dan pembinaan dari Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani S.TP, MT dan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Prof. Dr. H. Suyitno M.Ag.

Kakanwil Kemenag Sumsel Dr. Drs. H. Mukhlisuddin SH, MA dalam sambutannya mengaku sangat gembira mendapat kunjungan dan pembinaan dari Dirjen Pendis dan Direktur PTKI.

“Kita sama-sama tahu Pak Dirjen dan Pak Direktur sangat sibuk, oleh sebab itu kedatangan Pak Dirjen dan Pak Direktur ke sini merupakan anugerah bagi kami. Apalagi Sumsel ini merupakan provinsi pertama yang didatangi Pak Dirjen di luar Pulau Jawa. Tentu perasaan senang ini tidak bisa diungkapkan secara kongkrit. Mudah-mudahan beliau tidak kapok ke Palembang,” harap Mukhlisuddin.

Sebagai wujud syukur, lanjutnya, pembinaan kali ini dihadiri seluruh pejabat eselon III, baik di Lingkungan Kanwil Kemenag Sumsel maupun Kepala Kantor Kemenag Kabupaten/Kota se-Sumsel. Kemudian para pejabat eselon IV Kanwil Kemenag Sumsel dan Kemenag Kota Palembang, serta para Kepala Madrasah di Kota Palembang.

“Kami siap mendapatkan pembinaan dan wejangan, maupun informasi-informasi penting tentang pendidikan. Ini merupakan kesempatan langka. Kami yakin akan banyak membantu kami dalam meningkatkan kinerja di tempat tugas masing-masing,” harap Mukhlisuddin.

Direktur PTKI Prof. Dr. H. Suyitno M.Ag dalam paparannya menjelaskan pentingnya membangun link match antara madrasah dan perguruan tinggi keagamaan Islam. Sehingga alumni PTKIN memiliki kecakapan baik di bidang agama maupun kecakapan di bidang industri.

“Bila yang masuk PTKIN bukan dari madrasah, dia harus ikut Ma’had Jamaah agar memiliki kecakapan beragama yang dasar atau keterampilan beragama yang dasar. Tidak seperti sekarang, di mana masih kita temukan mahasiswa atau alumni PTKIN yang tidak bisa mengaji. Bila inputnya berasal dari madrasah jurusan agama, targetnya adalah tafaqquh fiddin, sehingga bisa dihasilkan muhaddis atau mufassir,” terang Suyitno.

Lalu bagaimana bila PTKIN tersebut tidak memiliki Ma’had Jamaah, Suyitno meminta agar bekerjasama dengan pondok pesantren.

“Ini adalah langkah agar ada link match antara madrasah dan PTKIN. Kita tentu tidak ingin ada alumni SMK atau SMA yang masuk lantas merusak identitas atau kekhasan PTKIN,” jelasnya lagi.

Selain itu, menurut Suyitno, alumni PTKIN harus punya link match dengan dunia industri. Sehingga lulusan PTKIN siap bersaing di dunia kerja.

“Kita tidak ingin alumni PTKIN tidak punya kecakapan di bidang-bidang industri. Karenanya, pratikum atau magang akan ditambah durasinya. Bila selama ini hanya beberapa minggu saja, ke depan praktek kerja akan diperpanjang menjadi tiga semester atau satu setengah tahun. Dengan begitu, kehadiran mahasiswa magang tidak malah merepotkan namun benar-benar mengasah kemampuan. Setelah diberikan materi secukupnya, mereka akan banyak praktek. Dengan demikian, bila ada mahasiswa jurusan keguruan misalnya, saat keluar dari PTKIN benar-benar sudah menjadi guru dan siap pakai,” beber Suyitno.

Sementara itu, Dirjen Pendis Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhan S.TP,  MT dalam paparannya menuturkan, Pendidikan Islam menekankan banyak hal terutama dalam hal ilmu. Ilmu terdiri dari tiga huruf, yakni ‘ain, lam, mim.

“Huruf ‘ain merujuk pada Illiyyin atau peningkatan derajat seseorang di tempat yang mulia. Sesungguhnya orang berilmu itu memiliki derajat tertentu. Pendis ingin menempatkan anak bangsa pada maqom mulia atau makhluk berderajat tinggi,” terangnya.

Selanjutnya huruf lam merujuk pada latif. Karenanya, orang yang memiliki ilmu dia memiliki rasa dan kelembutan.

“Dia memiliki potret yang bersahabat. Dia ramah bukan marah, membina bukan menghina, mengajak tidak mengejek, mengajar tidak menghajar, dan tampil dengan senyuman. Perilaku orang lain sangat tergantung cara kita menyampaikan. Pemilihan diksi penting. Orang berilmu itu pandai memilih kata,” jelasnya.

Kemudian yang terakhir adalah mim yakni mulk atau raja.

“Orang yang dibekali ilmu dia akan bahagia hakiki dunia akhirat. Dia akan menang perang. Perang melawan hawa nafsu. Hanya orang berilmu yang bisa melawan dirinya sendiri,” tutur Ramdhani.

Pada kesempatan itu, Dirjen Pendis juga menyampaikan rumusan lima nilai budaya kerja Kementerian Agama.

“Untuk membangun Pendis yang kuat butuh nilai integritas. Kita tidak bisa mengajarkan yang baik apabila tidak punya integritas,” tegasnya.

Selain itu juga dibutuhkan profesionalitas, yakni yang mengantarkan segala sesuatunya berdasarkan keilmuan yang tepat. Lalu inovasi yang tidak hanya dimaknai atau dipahami sebagai temuan baru, namun juga mencari sesuatu yang baru dengan mempertahankan nilai-nilai baik yang sudah ada. Kemudian semua yang dilakukan harus bisa dipertanggungjawabkan secara substantif dan administratif. Dan terakhir keteladanan.

“Mari berkomitmen menginjeksikan ilmu pengetahuan kepada siswa kita agar mereka menjadi pemilik masa depan,” ajak Ramdhani.

Selain pembinaan, di tempat yang sama juga diadakan penandatangan Prasasti Gedung SBSN Madrasah Aliyah Negeri Tahun 2019 dan Prasasti Pembangunan Ruang Kelas Baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here