Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengatakan hujan sporadis yang terjadi di sejumlah wilayah Sumsel dipengaruhi oleh kondisi dinamika atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
“Secara umum dapat disampaikan bahwa beberapa kejadian hujan yang terjadi secara sporadis di wilayah Sumsel termasuk di Kota Palembang, di samping karena kondisi dinamika atmosfernya mendukung untuk pembentukan awan hujan, tentu trigger dari kegiatan OMC Sumsel periode 19 sampai 23 September 2026 ini juga memperkuat pembentukan awan hujan yang terjadi di Sumsel,” kata Siswanto.
Ia menjelaskan, kondisi atmosfer Sumsel masih berpotensi mendukung terjadinya hujan dalam beberapa hari ke depan. Salah satunya dipengaruhi aktivitas gelombang Rosby yang diprediksi aktif di wilayah Sumsel pada 24–25 September 2026.
Aktivitas tersebut mengindikasikan adanya peningkatan potensi curah hujan. Selain itu, pola konvergensi dan belokan angin yang terbentuk di sekitar Sumsel juga dapat mendukung pertumbuhan awan konvektif pembentuk hujan.
Dalam tiga hari ke depan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan terjadi pada siang hingga sore hari di wilayah OKU, OKU Selatan, Muara Enim, Ogan Ilir, dan
Lahat.
Sementara pada malam hingga dini hari, potensi hujan berada di wilayah Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, dan PALI.
Siswanto mengatakan kehadiran hujan menjadi kabar penting di tengah kondisi Sumsel yang sebelumnya menghadapi kemarau panjang dan peningkatan kejadian karhutla.
“Pastinya dengan adanya hujan mampu mengurangi dampak kekeringan dan karhutla, terlihat dengan penurunan jumlah hotspot,” ujarnya.
Meski hujan mulai turun, masyarakat tetap diminta tidak lengah terhadap perubahan cuaca. BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi masih dapat terjadi ketika kondisi atmosfer berubah.
“Masyarakat juga diminta memantau prakiraan cuaca secara berkala, terutama sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Informasi prakiraan cuaca hingga tingkat desa/kelurahan dapat dipantau melalui situs resmi BMKG dan aplikasi InfoBMKG,”kata dia.









