Palembang – Suara ketukan alat tenun kayu tradisional terdengar ritmis dari sebuah sudut di kawasan Tuan Kentang, Palembang.
Di balik dentang kayu yang bersahut-sahutan itu, Jemari para pengrajin dengan telaten menyusun helai demi helai benang, merajut warisan budaya khas Bumi Sriwijaya agar tidak padam ditelan zaman.
Bagi Udin Abdullah, kain lokal bukan sekadar lembaran kain penutup tubuh. Ada helai-helai sejarah, dedikasi, dan identitas budaya yang ia titipkan di setiap motif kain Tajung, Blongsong, hingga Jumputan.
”Yang kita jual tidak hanya berupa nilai secara materi, tetapi nilai budaya. Bagaimana kelestarian kain khas Palembang ini bisa tetap eksis di tengah gempuran teknologi dan maraknya industri modern saat ini,” ujar Udin saat ditemui di galeri usahanya.
Kisah perjuangan usaha ini membawa kenangan Udin kembali ke era 1980-an di Jakarta, tempat orang tuanya menanam batu pertama komitmen keluarga ini pada kain tradisional. Langkah mandiri itu kemudian ia pancangkan secara penuh pada tahun 1984, memulai segalanya benar-benar dari nol di tanah kelahirannya, Palembang.
Udin mengingat betul bagaimana roda waktu meramu nilai dari karya tangannya.
“Dulu harga kain masih Rp12.500 per lembar. Sekarang harganya sudah mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah, tergantung dari jenis benang dan tingkat kerumitan kain yang digunakan,” kenangnya.
Kini, kain berbahan benang sutra menjadi produk andalan usahanya untuk merambah pasar kelas atas (high-end fashion). Meski demikian, permintaan kain reguler untuk kebutuhan pakaian kerja hingga acara seremonial dari wilayah tetangga seperti Jambi dan Bengkulu tetap mengalir stabil.
Pasar tekstil lokal tak dimungkiri memiliki dinamika pasang surut. Udin mengakui, tantangan berat mulai sangat terasa sejak pandemi COVID-19 menerjang dan dampaknya masih membayang hingga kini.
Di sisi lain, persaingan makin ketat seiring menjamurnya produk kain dari berbagai daerah serta banjirnya kain buatan pabrik mesin modern.
”Kendala utama kami saat ini adalah promosi yang belum begitu masif. Produksi di Tuan Kentang ini kan masih sangat tradisional. Namun, kami percaya kain lokal Palembang selalu punya pangsa pasar dan penikmatnya sendiri,” tutur Udin.
Di tengah gempuran produk massal, Udin tak tinggal diam. Ia memilih adaptif dengan membuka pintu kolaborasi bersama para desainer daerah hingga ibu kota, merancang motif-motif baru sesuai selera tren terkini, serta mengoptimalkan kanal penjualan daring.
Ia menangkap peluang positif di mana kebutuhan industri fashion nasional, khususnya di Jabodetabek, justru makin menggemari sentuhan etnik tradisional.
Menjaga rantai produksi tradisional tetap berputar membutuhkan daya dukung yang kokoh. Dalam perjalanannya, keberadaan mitra lembaga keuangan seperti Bank Mandiri menjadi salah satu angin segar yang membantu UMKM kain di Tuan Kentang untuk terus tumbuh.
Menurutnya, support yang diberikan tak hanya sebatas kemudahan sistem pembayaran digital bagi konsumen, tetapi juga pendampingan usaha secara menyeluruh.
Bagi Udin Abdullah dan para pengrajin di Tuan Kentang, setiap helai benang yang ditenun adalah ikhtiar merawat warisan nenek moyang. Selama jemari pengrajin masih memintal benang, selama itu pula identitas kain Palembang akan terus memeluk zaman.









