Palembang — Lonjakan harga bahan baku plastik pasca-Lebaran menjadi hantaman baru bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sumatera Selatan (Sumsel). Menanggapi situasi ini, Gubernur Sumsel, Herman Deru, menawarkan solusi praktis namun berdampak besar yakni kembali ke alam dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan.
Langkah ini dinilai sebagai strategi “Balik Kanan” yang paling masuk akal untuk menyelamatkan margin keuntungan pedagang sekaligus menjaga harga jual agar tetap terjangkau oleh masyarakat.
Kenaikan harga plastik yang berasal dari turunan minyak bumi atau petrokimia secara otomatis mendongkrak biaya produksi sektor kuliner. Herman Deru menekankan bahwa ketergantungan pada plastik hanya akan membuat pelaku usaha terjepit di tengah fluktuasi harga pasar.
“Plastik itu berasal dari bahan minyak. Jika penggunaannya kita kurangi sejak sekarang, maka ada dua keuntungan sekaligus, pengeluaran usaha bisa ditekan karena bahan alami jauh lebih murah, dan lingkungan kita tetap terjaga,” ujar Deru saat memberikan imbauan kepada pelaku usaha, Rabu (8/4/2026).
Bagi masyarakat Sumsel, penggunaan daun pisang sebenarnya bukan hal baru. Namun, modernitas perlahan menggeser tradisi tersebut dengan plastik sekali pakai yang praktis namun mahal dan mencemari lingkungan.
Herman Deru menilai, beralih ke daun pisang tidak akan menurunkan kelas sebuah produk. Sebaliknya, penggunaan teknik tradisional seperti “pincuk” justru memberikan nilai estetika dan aroma khas yang tidak bisa diberikan oleh pembungkus plastik.
“Sebisa mungkin kita minimalkan penggunaan plastik. Kembali ke bahan alami seperti daun pisang adalah pilihan yang bijak. Selain ekonomis karena mudah didapat di sekitar kita, makanan jadi punya aroma khas yang lebih menarik bagi pembeli,” tambahnya.
Dirinya berharap imbauan ini disambut positif oleh para pedagang pasar dan pengusaha katering sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi kenaikan harga pangan yang dipicu oleh mahalnya biaya kemasan.
“Mari kita hidupkan lagi kebiasaan lama yang sehat dan murah. Ini adalah cara kita bertahan sekaligus mencintai alam Sumatera Selatan,” tutup Deru.













