PALEMBANG – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin memudahkan siapa saja menciptakan gambar yang tampak nyata. Namun di balik kemudahan tersebut, tersimpan risiko besar berupa penyebaran informasi menyesatkan yang dapat memicu kepanikan masyarakat.
Fenomena itu baru saja terjadi di Kecamatan Gandus, Kota Palembang. Foto yang sempat viral dan disebut-sebut memperlihatkan sosok pocong gentayangan di kawasan tersebut akhirnya dipastikan bukan kejadian nyata, melainkan hasil rekayasa menggunakan teknologi AI.
Kepastian itu diperoleh setelah jajaran Polsek Gandus Polrestabes Palembang mengamankan pembuat konten yang pertama kali menyebarkan gambar tersebut ke media sosial.
“Hasil pemeriksaan dan klarifikasi menunjukkan bahwa foto pocong yang beredar merupakan hasil editan menggunakan teknologi AI,” ujar Kapolsek Gandus AKP I Made Budi Harta, Senin (1/6/2026).
Pembuat konten tersebut diketahui bernama Febrianto alias Ebi (24), seorang wiraswasta asal Palembang. Ia diamankan untuk dimintai keterangan terkait unggahan yang telah menyebar luas dan memunculkan berbagai spekulasi di masyarakat.
“Banyak warga yang mempercayai gambar tersebut sebagai peristiwa nyata. Tanpa melakukan verifikasi, foto itu kemudian dibagikan ulang ke berbagai grup percakapan dan media sosial sehingga informasi yang tidak benar semakin meluas, ” kata dia.
Akibatnya, muncul berbagai cerita dan asumsi liar yang berkembang di tengah masyarakat. Sebagian warga bahkan mengaitkannya dengan isu mistis yang disebut-sebut terjadi di kawasan Gandus.
Saat ini, polisi masih mendalami motif pembuatan dan penyebaran konten tersebut. Status hukum pembuat konten juga masih dalam tahap pemeriksaan dan belum ditetapkan sebagai tersangka.
“Kami masih melakukan pendalaman untuk mengetahui motif yang sebenarnya, apakah hanya untuk hiburan atau ada tujuan lain,” kata Made.
Dirinya pun mengingatkan masyarakat agar lebih kritis terhadap berbagai konten visual yang beredar di internet. Kemampuan AI yang semakin canggih membuat foto maupun video palsu dapat dibuat dengan tampilan yang sangat meyakinkan.
“Masyarakat diminta tidak langsung mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Langkah sederhana seperti mengecek sumber informasi, mencari pemberitaan resmi, dan melakukan konfirmasi dapat mencegah penyebaran hoaks yang berpotensi menimbulkan keresahan publik, “kata dia.









