Menu ✖

Mode Gelap

News

Pupuk Subsidi Dibajak Mafia, Petani Menjerit saat 14 Ton Nyaris Diselundupkan ke Jambi

badge-check


Truk yang diduga menyelundupkan pupuk subsidi yang hendak menuju Jambi. Foto : Istimewa Perbesar

Truk yang diduga menyelundupkan pupuk subsidi yang hendak menuju Jambi. Foto : Istimewa

Palembang – Praktik penyelewengan pupuk subsidi kembali terbongkar di Sumatera Selatan (Sumsel). Kali ini, aparat kepolisian berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 14 ton pupuk subsidi jenis urea dan phonska yang diduga hendak dikirim ke luar provinsi, tepatnya ke Jambi. Ironisnya, pupuk yang seharusnya menjadi penopang produksi pertanian justru dijadikan komoditas bisnis ilegal.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumsel melalui Subdit I Tipidter Indagsi mengungkap dua kasus berbeda yang saling berkaitan dalam jaringan distribusi gelap pupuk subsidi. Dua lokasi pengungkapan berada di Kota Palembang dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Direktur Ditreskrimsus Polda Sumsel, Kombes Pol Doni Satrya Sembiring, mengatakan aparat mengamankan sembilan ton pupuk subsidi dari lokasi pertama di Jalan Mayjen HM Ryacudu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang. Sementara lima ton pupuk subsidi lainnya diamankan saat pemeriksaan di wilayah Dusun Batin Mulya, OKI.

“Total ada delapan tersangka yang kami amankan dari dua pengungkapan ini. Mereka memiliki peran berbeda dalam rantai penyelewengan pupuk subsidi,” kata Doni saat konferensi pers, Kamis (29/1/2026).

Dalam kasus pertama, para pelaku memanfaatkan lemahnya permodalan kelompok tani. Kuota pupuk subsidi yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan pertanian justru dijual kembali melalui kerja sama antara oknum kelompok tani, Koperasi Unit Desa (KUD), dan pihak penadah.

“Pupuk dibeli dari kelompok tani sekitar Rp90 ribu per karung, lalu dijual kembali dengan harga Rp110 ribu per karung. Setelah itu, pupuk dijual ke daerah lain dengan harga yang jauh lebih tinggi,” ungkap Doni.

Akibatnya, pupuk subsidi tidak sampai ke tangan petani yang berhak. Para petani justru terpaksa membeli pupuk non-subsidi dengan harga mahal, sementara keuntungan dinikmati oleh para pelaku.

Sementara pada kasus kedua, modus yang digunakan lebih berani. Pupuk subsidi diambil dari Provinsi Lampung, kemudian direncanakan melintasi Sumsel untuk dikirim ke Provinsi Jambi. Namun rencana tersebut berhasil digagalkan aparat saat melakukan pemeriksaan di wilayah OKI.

Dari dua kasus tersebut, polisi memperkirakan kerugian negara mencapai lebih dari Rp1,2 miliar. Rinciannya, sekitar Rp450 juta dari kasus pertama dan Rp810 juta dari kasus kedua.

“Ini bukan sekadar pelanggaran distribusi, tapi kejahatan yang berdampak langsung pada ketahanan pangan dan kesejahteraan petani,” tegas Doni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BMKG Tegaskan Dry Ice Bukan Penyerap Asap Karhutla, Ini Fungsi Sebenarnya.

21 Oktober 2026 - 17:41 WIB

Film Anak Indonesia Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua Raih Penghargaan Global Peace and Friendship, Siap Diputar di Festival Film Eropa

21 Oktober 2026 - 14:55 WIB

Dari Merawat Pasien hingga Melawan Kebakaran Hutan 

21 Oktober 2026 - 14:29 WIB

Pendorong Ekonomi Daerah: Bank Mandiri Region II Kucurkan Rp21,8 Triliun Kredit UMKM per September 2026

20 Oktober 2026 - 17:30 WIB

Kabut Asap Palembang Kembali Pekat, Gubernur Sumsel Siapkan 1,6 Ton Dry Ice

20 Oktober 2026 - 16:32 WIB

Trending di News