Palembang — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Selatan resmi menetapkan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan ini memberi kepastian dini bagi warga Muhammadiyah dalam menyusun agenda ibadah dan sosial selama bulan suci.
Ketua DPW Muhammadiyah Sumsel, Ridwal Hayatuddin, menjelaskan penetapan tersebut mengacu pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025, dengan menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal yang telah menjadi pedoman organisasi.
“Dengan ketetapan ini, salat Tarawih sudah bisa dilaksanakan pada Selasa malam, 17 Februari 2026,” kata Ridwal, Senin (19/1/2026).
Ridwal menegaskan bahwa metode hisab yang digunakan Muhammadiyah bukan sekadar pendekatan teknis, melainkan memiliki dasar teologis yang kuat. Penentuan waktu ibadah dilakukan melalui perhitungan astronomi yang merujuk pada Al-Qur’an, khususnya Surah Yunus ayat 5.
“Ayat tersebut menjelaskan bahwa matahari dan bulan diciptakan sebagai sarana perhitungan waktu dan bilangan tahun. Dari sinilah lahir ilmu falak yang menjadi dasar hisab,” jelasnya.
Menurutnya, Muhammadiyah memaknai konsep rukyat tidak semata-mata dengan pengamatan kasat mata, tetapi juga melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Dengan pendekatan ini, awal bulan Hijriah dapat ditentukan jauh hari sebelumnya secara akurat dan konsisten.
Ridwal tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan penetapan awal Ramadan dengan organisasi atau kelompok Islam lainnya. Namun, ia menekankan bahwa perbedaan metode seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan.
“Setiap kelompok memiliki dasar hukum dan metode masing-masing. Yang terpenting, perbedaan ini disikapi dengan kedewasaan dan saling menghormati,” tegasnya.
Ia berharap penetapan awal Ramadan ini dapat menjadi momentum memperkuat persatuan umat, sekaligus mendorong masyarakat untuk mempersiapkan diri secara spiritual dan sosial menyambut bulan penuh berkah.












