Palembang – Kombinasi cuaca ekstrem akibat dampak lanjutan El Nino dan lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi sempat mengancam stabilitas harga pangan di Kota Palembang.
Meski begitu, Ibu Kota Sumatera Selatan ini berhasil menahan laju inflasi tahunan di level 2,40 persen pada September 2026—turun dari bulan sebelumnya yang berada di angka 2,48 persen, sekaligus tetap aman di dalam target sasaran nasional 2,5 persen.
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, mengungkapkan bahwa guncangan iklim menjadi faktor utama yang memukul pasokan komoditas pangan di pasar lokal, terutama cabai.
”Kemarau panjang dan cuaca panas membuat bunga cabai rontok sebelum waktunya. Petani di berbagai daerah pengirim mengalami gagal panen, sehingga pasokan yang masuk ke Palembang menjadi sangat terbatas dan mendorong kenaikan harga,” kata Ratu Dewa.
Dua tekanan utama yang membayangi stabilitas harga di Palembang:
Gagal Panen Pangan: Rontoknya bunga cabai akibat El Nino memangkas pasokan pasar secara drastis.
Kenaikan BBM Nonsubsidi: Penyesuaian harga pada Pertamax Turbo (menjadi Rp20.000/liter), Dexlite (Rp24.200/liter), dan Pertamina Dex (Rp25.750/liter) menaikkan beban logistik.
Di samping memantau pasokan cabai dan ketersediaan beras premium kemasan lima kilogram, Pemkot Palembang bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mengaktifkan jurus taktis 4K: Ketersediaan barang, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, serta Komunikasi efektif.
”Kami langsung mengintervensi pasar dengan menggelar operasi pasar murah hingga ke tingkat kelurahan dan kecamatan. Ini langkah krusial untuk menjaga daya beli warga sekaligus mencegah munculnya aksi borong atau panic buying,” tegas Ratu Dewa.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah daerah memfokuskan perbaikan infrastruktur fisik demi menopang arus barang.
”Kami merehabilitasi jalan, merevitalisasi pasar tradisional, dan mengatur arus lalu lintas agar distribusi dari daerah penghasil tidak terhambat. Tanpa rantai pasok yang lancar, harga di tingkat konsumen sulit dikendalikan,” ujarnya.
Bagi Ratu Dewa, keberhasilan menekan inflasi berhubungan erat dengan daya tarik kota di mata wisatawan.
”Wisatawan tidak akan nyaman berkunjung jika harga-harga melonjak tidak terkendali. Pengendalian harga dan geliat pariwisata itu saling menguatkan. Beras aman, harga stabil, jalan lancar—suasana kota jadi kondusif untuk dikunjungi,” tutur Ratu Dewa.
Ia menutup keterangannya dengan menegaskan bahwa seluruh kebijakan ekonomi Palembang ke depan akan terus bersandar pada data faktual dari Badan Pusat Statistik (BPS) agar langkah antisipasi yang diambil selalu presisi.








