Oleh: Herryandi Sinulingga, AP.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Musi Banyuasin
Keterbatasan anggaran seringkali dianggap sebagai tembok besar yang menghentikan laju pembangunan. Namun, di era transformasi saat ini, memandang APBD sebagai satu-satunya mesin penggerak daerah adalah pandangan yang sudah usang.
Bagi kita di Musi Banyuasin, keterbatasan fiskal justru menjadi pemantik kreativitas untuk melahirkan inovasi pendanaan alternatif yang progresif.
Membangun daerah—terutama dalam mencetak SDM unggul dan memperluas lapangan kerja—memerlukan “tangan dingin” kolaborasi. Strategi memaksimalkan program non-APBD bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan kesejahteraan masyarakat tetap bergerak naik di tengah kebijakan efisiensi.
Bukti Nyata: Investasi SDM Tanpa Beban APBD
Disnakertrans Muba telah membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukan penghalang untuk melahirkan generasi unggul. Melalui skema kerja sama strategis dan pemanfaatan dana pihak ketiga, kita telah berhasil menjalankan program pendidikan vokasi yang prestisius:
Sinergi Sektor Perkebunan (Sawit):
Lewat MoU dengan AKPY-STIPER Yogyakarta, kita berhasil memfasilitasi anak-anak muda Muba untuk mendapatkan beasiswa sawit melalui pendanaan BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit). Ini adalah wujud nyata program beasiswa non-APBD yang memberikan akses pendidikan tinggi bagi putra-putri daerah agar siap menjadi pemain utama di industri perkebunan nasional.
Keahlian Khusus Sektor Migas:
Langkah serupa kita lakukan melalui kerja sama dengan PPSDM Migas Cepu. Melalui jalur vokasi ini, pemuda Muba dididik dan disertifikasi agar memiliki kompetensi standar internasional di sektor minyak dan gas. Inisiatif ini memastikan tenaga kerja lokal kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi teknisi dan tenaga ahli yang kompetitif di tanah kelahirannya sendiri.
Menjadikan CSR sebagai Investasi Sosial yang Terukur
Keberhasilan kerja sama dengan AKPY dan pihak Cepu adalah blueprint bagaimana CSR dan pendanaan pihak ketiga harus dikelola. Perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Bumi Serasan Sekate perlu didorong untuk menyelaraskan program mereka dengan prioritas daerah, terutama pada penguatan kompetensi tenaga kerja yang siap pakai (job-ready).
Hilirisasi dan SDM sebagai Jangkar Ekonomi Baru
Fokus kita harus tajam: Hilirisasi industri berbasis sumber daya alam harus dibarengi dengan kesiapan SDM. Program non-APBD sangat potensial diarahkan untuk sertifikasi kompetensi pemuda hingga pengembangan ekonomi digital. Ketika kualitas tenaga kerja lokal meningkat, angka pengangguran akan turun, dan kemandirian ekonomi akan tercipta secara otomatis.
Penutup
Membangun Musi Banyuasin yang maju lebih cepat memerlukan keberanian untuk keluar dari zona nyaman administrasi anggaran. Dengan memaksimalkan sumber daya non-APBD, kita sedang membangun fondasi masa depan di mana pembangunan tidak lagi tersandera oleh angka di atas kertas, melainkan digerakkan oleh semangat kolaborasi yang nyata antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta.
Muba maju bukan hanya karena besarnya anggaran, tapi karena kuatnya sinergi dan inovasi dalam setiap kebijakannya.
Ayo bergandengan tangan berkolaborasi bersama mewujudkan muba maju lebih cepat dan masyarakatnya sejahtera.













