Menu

Mode Gelap

News

14 Tahun Mengobati Tanpa Tarif, Pemilik Rumah Sirih Palembang Buka Suara Soal Tudingan Miring

badge-check


Ferizka Utami selaku pemilik Rumah Sirih bersama Tim Sakahira Law Firm saat klarfikiasi tudingan miring. Foto : Istimewa Perbesar

Ferizka Utami selaku pemilik Rumah Sirih bersama Tim Sakahira Law Firm saat klarfikiasi tudingan miring. Foto : Istimewa

Palembang — Jagat maya sempat riuh oleh potongan video pengobatan alternatif yang dituding membahayakan anak-anak. Namun, tabir di balik viralnya Rumah Sirih Palembang akhirnya tersingkap. Bukan melalui surat somasi yang kaku, pihak pengelola justru memilih cara persuasif: mengundang publik datang dan melihat langsung prosesnya.

Berlokasi di Perumahan Top 100, Jakabaring, tempat pengobatan tradisional yang sudah berdiri sejak 2012 ini menjadi sorotan setelah sebuah video testimoninya disalahartikan oleh sebagian warganet.

Ketua tim kuasa hukum dari Sakahira Law Firm, A. Rilo Budiman, menegaskan kegaduhan yang terjadi berakar dari informasi yang tidak utuh. Ia menyayangkan bagaimana sebuah potongan video bisa membentuk opini negatif tanpa konfirmasi lapangan.

“Datang dan buktikan sendiri. Jangan hanya menjadi hakim di media sosial berdasarkan potongan video. Kami sangat terbuka,” tegas Rilo saat ditemui langsung di lokasi praktik, Jumat (25/4/2026).

Bahkan isu ini tak hanya menarik perhatian netizen, tetapi juga membuat lembaga-lembaga kredibel turun tangan. Tercatat, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumsel, KPAI Sumsel, hingga Dinas KPA3 Sumsel telah melakukan peninjauan langsung.

Hasilnya cukup mengejutkan bagi para pengritik yakni tidak ditemukan pelanggaran. Praktik pengobatan ‘Totok Sirih’—terapi titik saraf menggunakan media kayu—dinilai masih berjalan sesuai prosedur pengobatan tradisional yang transparan.

“Kami sepakat dengan IDAI bahwa kesehatan masyarakat adalah prioritas utama. Semua proses di sini dilakukan secara terbuka, bahkan jumlah pasien mencapai 200 hingga 300 orang per hari. Itu adalah bentuk kepercayaan publik yang sudah terbangun selama 14 tahun,” tambah Axel F, anggota tim hukum lainnya.

Senada dengan itu, Ferizka Utami selaku pemilik Rumah Sirih menjelaskan bahwa video yang memicu pro-kontra tersebut justru diunggah oleh pasiennya sendiri—Intan—sebagai bentuk syukur atas progres kesehatan anaknya, Arga.

“Pasien yang mengunggah sendiri karena merasa anaknya mengalami perubahan positif kesembuhan. Namun sayangnya, video itu kemudian dimanfaatkan oleh komentar-komentar negatif dari oknum yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya,” jelas Ferizka.

Ia menerangkan, metode pengobatan yang digunakan berupa totok sirih, yakni terapi tradisional dengan media kayu untuk menekan titik-titik saraf tertentu. Metode ini diterapkan berbeda sesuai usia pasien, mulai dari bayi, anak-anak, dewasa hingga lansia.

Praktik pengobatan tersebut, lanjut dia, telah berjalan sejak 2012 hingga sekarang dan dilakukan secara terbuka tanpa ada yang ditutupi.

“Kami tidak menetapkan tarif khusus, semuanya seikhlasnya. Harapannya, masyarakat mampu maupun tidak mampu tetap bisa mendapatkan pertolongan. Karena kesehatan adalah rezeki paling berharga,” ujarnya.

Ferizka mengakui viralnya kasus ini membawa dampak positif dan negatif. Positifnya, Rumah Sirih semakin dikenal masyarakat luas. Namun di sisi lain, tudingan yang dinilai tidak berdasar juga ikut mencoreng nama baik tempat pengobatan tersebut.

“Saya tidak ingin viral karena konflik atau tuduhan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kalau viral, saya ingin karena prestasi membantu masyarakat sehat,” katanya.

Ia pun mengajak masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Kami tetap buka seperti biasa dan tetap melayani masyarakat. Tidak ada unsur paksaan. Kalau cocok silakan lanjut, kalau tidak cocok silakan mencari pengobatan lain. Kesembuhan itu hanya milik Allah SWT, kami hanya perantara,” ujarnya.

Sementara itu, Intan, orang tua dari Arga sekaligus pemilik akun yang mengunggah video viral tersebut, menegaskan bahwa postingan itu dilakukan atas kemauan pribadi tanpa ada unsur paksaan dari pihak mana pun.

“Saya rutin berobat di sini sejak 2014. Anak saya sehat, tidak ada luka atau memar. Justru saya senang karena ada perkembangan kesembuhan,” ungkap Intan,

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Owner Rumah Sirih Palembang Buka Suara Terkait Video Viral Terapi Bayi

25 April 2026 - 15:14 WIB

Gubernur Herman Deru Tekankan Pencegahan Dini dan Kesamaan Persepsi Hadapi Karhutla 2026

25 April 2026 - 10:36 WIB

Berhasil Membangun Infrastruktur konektivitas Transportasi, Palembang Raih National Governance Award 2026

25 April 2026 - 10:24 WIB

Kemarau Dini 2026, Gubernur Sumsel Dorong Transparansi Kualitas Udara dan Kesiapsiagaan Karhutla**]/

24 April 2026 - 19:31 WIB

Understanding Mostbet Aviator: A Manual To Winning Strategies

24 April 2026 - 18:52 WIB

Trending di News