Menu

Mode Gelap

News

Karhutla Meningkat, Ogan Ilir Dijaga Ketat Demi Lindungi Tol dan Infrastruktur Strategis

badge-check


Tim Manggala Agni saat melakukan pemadaman di Ogan Komering Ilir (OKI), Foto : Manggala Agni Perbesar

Tim Manggala Agni saat melakukan pemadaman di Ogan Komering Ilir (OKI), Foto : Manggala Agni

PALEMBANG – Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan menunjukkan peningkatan signifikan seiring memasuki musim kemarau. Kondisi ini membuat pemerintah memperketat pengawasan, terutama di Kabupaten Ogan Ilir yang dinilai memiliki risiko tinggi terhadap sejumlah objek vital nasional.

Berdasarkan data sistem pemantauan, luas karhutla di Sumsel sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai 305 hektare. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang hanya 43 hektare, bahkan melampaui capaian 2024 yang tercatat 184 hektare.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan fokus penanganan kini tidak hanya tertuju pada wilayah gambut seperti Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba), dan Muara Enim, tetapi juga bergeser ke Kabupaten Ogan Ilir.

Menurutnya, kawasan tersebut menjadi perhatian khusus karena terdapat berbagai infrastruktur strategis yang harus dilindungi dari ancaman kebakaran.

“Saat ini fokus kami di Ogan Ilir karena di sana terdapat sejumlah objek vital seperti jalan tol, jalan lintas, hingga fasilitas strategis negara yang harus diamankan,” ujarnya, Rabu (8/7/2026).

Ferdian menjelaskan, kebakaran yang terjadi di sekitar jalur transportasi dapat menimbulkan dampak berantai. Asap tebal berpotensi mengganggu jarak pandang pengendara, meningkatkan risiko kecelakaan, hingga mengancam keberadaan jaringan pipa minyak yang melintasi wilayah tersebut.

Selain menghadapi ancaman meluasnya titik api, tim pemadam juga dihadapkan pada tantangan teknis di lapangan. Memasuki musim kemarau, muka air di kawasan rawan karhutla terus mengalami penurunan sehingga sumber air semakin jauh dari lokasi kebakaran.

Akibatnya, petugas harus membentangkan selang pemadam hingga sekitar 350 meter untuk menjangkau titik api. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan tenaga yang lebih besar.

Untuk mengantisipasi kondisi yang diperkirakan semakin berat menjelang puncak kemarau, Dalkarhut mulai menerapkan strategi pengelolaan air yang telah lebih dulu diterapkan di Provinsi Riau. Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan embung tambahan serta pembersihan kanal agar cadangan air di kawasan gambut tetap terjaga.

Menurut Ferdian, langkah pencegahan menjadi strategi paling efektif karena vegetasi yang semakin kering akan membuat api lebih cepat menyebar ketika kebakaran terjadi.

“Dengan menjaga ketersediaan air di kawasan gambut, kami berharap risiko meluasnya karhutla dapat ditekan, terutama menjelang puncak musim kemarau pada Agustus hingga September,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pertamina Peduli Dirikan Posko Medis Gratis 24 Jam, Lebih Dekat dengan Korban Gempa di Reok NTT

24 Agustus 2026 - 04:33 WIB

Pemkot Palembang Prioritaskan Kesehatan Siswa dan ASN di Tengah Dinamika Kualitas Udara

23 Agustus 2026 - 21:46 WIB

Respons Cepat Dampak Asap, Pemkot Palembang Siapkan 10 Ribu Masker dan Siagakan Layanan Kesehatan

23 Agustus 2026 - 11:17 WIB

Meriahkan HUT ke-81 RI, Pemkot Palembang Gelar Padel Championship Wali Kota Cup 2026

22 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Pertamina Peduli Salurkan Bantuan bagi 534 Penyintas Gempa di Kecamatan Palue, NTT

22 Agustus 2026 - 19:28 WIB

Trending di News