PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan memastikan kapasitas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap terjaga meski satu unit helikopter water bombing dialihkan untuk membantu pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Tangerang.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan saat ini masih terdapat empat helikopter water bombing yang bersiaga di Sumatera Selatan untuk mendukung operasi pemadaman dari udara.
“Iya, seharusnya di Sumsel ada lima helikopter water bombing, namun satu digeser ke Tangerang untuk pemadaman di TPA Jatiwaringin. Saat ini di Sumsel masih ada empat yang disiagakan untuk penanganan karhutla,” ujarnya, Jumat (10/7/2026).
Helikopter yang direposisi merupakan tipe UR-VBC/MI8-MSBT yang telah bertugas di Sumsel sejak 6 Juni 2026. Selama masa penugasannya, armada tersebut telah mencatat lebih dari 19 jam terbang, melaksanakan enam sorti, serta menjatuhkan sekitar 484 ribu liter air melalui 121 kali operasi water bombing untuk membantu memadamkan kebakaran.
Selain armada pemadaman udara, BPBD Sumsel juga tetap mengoperasikan dua helikopter patroli yang bertugas memantau perkembangan titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah rawan karhutla.
Menurut Sudirman, patroli udara menjadi bagian penting dalam strategi penanganan karhutla karena memungkinkan deteksi dini terhadap potensi kebakaran. Hasil pemantauan dari udara langsung diteruskan kepada tim di lapangan sehingga upaya pemadaman dapat dilakukan lebih cepat sebelum api meluas.
“Untuk helikopter patroli tetap dua unit. Operasionalnya tidak berubah dan terus digunakan untuk melakukan pemantauan wilayah-wilayah yang rawan terjadi karhutla,” katanya.
BPBD memastikan pengurangan satu armada tidak akan mengurangi kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September mendatang.
Saat ini, total terdapat enam armada udara yang tetap bersiaga di Sumsel, terdiri dari empat helikopter water bombing dan dua helikopter patroli.
Sudirman menambahkan, BPBD masih menunggu arahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait kemungkinan penambahan armada udara apabila intensitas kebakaran meningkat pada puncak musim kemarau.
“Saat ini total ada enam armada yang standby di Sumsel. Terkait kesiapan menghadapi puncak kemarau dan peningkatan kejadian karhutla, kami masih menunggu instruksi BNPB,” pungkasnya.








