Menu

Mode Gelap

News

Tak Mau Gen Z Bosan Belajar Sejarah, Penulis Leiden Sulap Manuskrip Belanda Jadi Misteri Harta Karun

badge-check


Tak Mau Gen Z Bosan Belajar Sejarah, Penulis Leiden Sulap Manuskrip Belanda Jadi Misteri Harta Karun Perbesar

PALEMBANG – Bagaimana membuat generasi muda tertarik membaca sejarah tanpa merasa sedang membuka buku pelajaran? Hasbunallah Haris memilih cara berbeda. Ia mengubah manuskrip kuno, jejak kolonial Belanda dan kisah harta karun menjadi cerita misteri dalam novel Leiden 2020–1920.

Penulis asal Padang tersebut mengatakan ide menulis fiksi sejarah berangkat dari kegelisahannya terhadap cara sejarah selama ini diperkenalkan kepada anak muda.

Menurut Hasbunallah, sejarah sebenarnya memiliki banyak cerita menarik, tetapi sering kali disampaikan dengan cara yang membuat pembaca cepat kehilangan minat.

“Saya pikir, bagaimana kalau sejarah ini diceritakan dengan lebih asyik,” ujar Hasbunallah, Senin (24/8/2026).

Dari gagasan itu, lahirlah Leiden 2020–1920, novel setebal 552 halaman yang memadukan sejarah, misteri dan petualangan.

Cerita bermula dari sebuah manuskrip yang ditulis pada 1920 oleh seorang anggota dinas intelijen Belanda. Naskah tersebut menyimpan cerita mengenai harta karun yang dikubur pada masa kolonial.

Seratus tahun kemudian, pada 2020, manuskrip tersebut kembali menjadi pusat pencarian. Misteri yang tersimpan di dalamnya kemudian membawa pembaca menyusuri jejak sejarah sekaligus berbagai lokasi di Sumatera.

Bahasa Dibuat Ringan agar Gen Z Tak “Skip”

Hasbunallah sengaja menggunakan gaya bahasa yang lebih sederhana dalam novelnya. Ia ingin pembaca muda, khususnya Gen Z, dapat mengikuti cerita tanpa merasa sedang membaca karya sejarah yang berat.

“Saya berusaha mengimbangi Gen Z yang suka skip. Jadi, saya tulis dalam bahasa yang sangat mudah dipahami,” katanya.

Menurut dia, penggunaan bahasa yang ringan bukan berarti mengurangi kedalaman sejarah dalam cerita. Justru, riset menjadi bagian penting sebelum fakta sejarah dimasukkan ke dalam alur fiksi.

Hasbunallah harus mendatangi sejumlah pihak, melakukan wawancara dan menelusuri berbagai sumber. Tantangannya, beberapa referensi yang digunakan ditulis dalam bahasa Belanda dan Inggris.

“Karena ini genrenya fiksi sejarah, jadi harus ada penelitian dulu, harus ada riset dulu sebelum kemudian memulainya,” ujarnya.

Proses pengerjaan novel berlangsung sekitar enam bulan. Waktu tersebut digunakan untuk melakukan riset sekaligus menulis. Bahkan, penelitian tetap dilakukan ketika naskah sudah masuk tahap penulisan hingga penyuntingan.

Berawal dari Sayembara, Berujung Diterbitkan Gramedia

Perjalanan Leiden 2020–1920 hingga menjadi buku yang beredar secara luas juga tidak terlepas dari Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Naskah tersebut berhasil meraih juara kedua dalam sayembara yang telah menjadi salah satu ajang penting dalam perjalanan sastra Indonesia tersebut.

Prestasi itu kemudian membuka jalan bagi Hasbunallah untuk menerbitkan novelnya melalui Gramedia.

“Saya ditawarin sama Gramedia untuk terbitin di Gramedia. Saya langsung terima,” tuturnya.

Leiden 2020–1920 sendiri merupakan novel ketiga yang ditulis Hasbunallah. Dua karya sebelumnya diterbitkan melalui penerbit lokal di Padang.

Menariknya, aktivitas menulis tersebut berjalan beriringan dengan pendidikan. Setelah menyelesaikan S1 Sastra Arab, Hasbunallah kini melanjutkan pendidikan S2 Sejarah di UIN Imam Bonjol Padang.

Latar belakang tersebut ikut membentuk ketertarikannya terhadap sejarah dan penelitian naskah lama.

Siapkan Cerita Baru dari Sumatera

Hasbunallah belum berniat meninggalkan genre fiksi sejarah. Ia bahkan telah menyiapkan karya berikutnya yang masih memiliki keterkaitan dengan semesta Leiden.

Kali ini, ia ingin mengeksplorasi lebih jauh sejarah Sumatera, terutama kehidupan masyarakat maritim, perdagangan laut, masyarakat pesisir hingga jaringan perdagangan rempah dan mineral.

Lada dan emas menjadi beberapa tema yang menarik perhatiannya. Komoditas tersebut memiliki sejarah panjang dalam perdagangan Sumatera dan turut menarik perhatian bangsa Eropa pada masa lalu.

Ia juga tertarik mengangkat kawasan pertambangan emas di sepanjang Bukit Barisan sebagai bagian dari cerita.

Namun, Hasbunallah menegaskan fiksi sejarah tetap harus berpijak pada riset. Ketika menemukan perbedaan antara satu sumber dengan sumber lainnya, ia melakukan pengecekan silang sebelum menentukan informasi yang digunakan dalam cerita.

“Kalau pun ada sumber yang berbeda, biasanya saya cantumkan di bagian *footnote*-nya,” jelasnya.

Novel Leiden 2020–1920 kini dibanderol sekitar Rp139 ribu dan dapat ditemukan melalui jaringan Gramedia maupun berbagai platform belanja daring.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ratu Dewa Ganti Plt Kadishub Palembang, Parkir Liar dan Lampu Jalan Jadi Prioritas

24 Agustus 2026 - 18:03 WIB

Pertamina Patra Niaga Tambah Pasokan BBM di NTT, Distribusi ke Wilayah Terdampak Bencana Kembali Pulih

24 Agustus 2026 - 17:08 WIB

Kabut Asap Ganggu Aktivitas Sekolah, Disdik Sumsel Izinkan Penyesuaian Jam Belajar

24 Agustus 2026 - 16:42 WIB

Prabowo Dikabarkan ke Palembang di Tengah Karhutla Sumsel,

24 Agustus 2026 - 13:35 WIB

Antisipasi Dampak Kabut Asap, Pemkot Palembang Bagikan 16.500 Masker Gratis

24 Agustus 2026 - 12:15 WIB

Trending di News