Menu ✖

Mode Gelap

News

Kanal Mengering, Water Bombing Tak Maksimal: Pemadaman Karhutla Sumsel Makin Berat

badge-check


Kanal Mengering, Water Bombing Tak Maksimal: Pemadaman Karhutla Sumsel Makin Berat Perbesar

PALEMBANG – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Bukan hanya luasnya area terbakar dan medan gambut, menipisnya cadangan air di kanal membuat akses pemadaman dari darat semakin sulit.

Kondisi ini terjadi saat tim Manggala Agni masih berjibaku menangani sejumlah titik karhutla di Sumsel. Beberapa lokasi bahkan berada semakin jauh dari sumber air sehingga petugas harus menarik selang lebih panjang untuk menjangkau titik api.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Lahan Wilayah Sumatra Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengatakan kondisi kanal di sejumlah lokasi mulai mengering.

“Beberapa lokasi makin susah untuk didekati, kondisi air yang ada di kanal-kanal makin sedikit. Posisi kebakaran juga menjauh dari sumber air, sehingga menarik airnya makin jauh,” ungkap Ferdian, Senin (28/9/2026).

Saat ini, Manggala Agni masih memusatkan penanganan di sejumlah wilayah yang mengalami karhutla. Lokasi tersebut antara lain Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Sungai Bungin dan Pedamaran di OKI, Gumai dan Gelumbang di Muara Enim, Muara Merang di Musi Banyuasin, Sungai Rambutan di Ogan Ilir, serta Jakabaring Palembang.

Ferdian menyebut hampir seluruh lokasi memiliki tantangan masing-masing. Luasnya area terbakar, karakteristik lahan gambut, hingga keterbatasan sumber air membuat pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.

“Semua punya tingkat kesulitan masing-masing mas, hampir semua lokasi luas-luas, tanah gambut dan sumber air terbatas,” katanya.

Kondisi tersebut semakin berat karena periode tanpa hujan masih berlangsung cukup panjang. Hujan yang sempat turun di sejumlah daerah belum mampu mengembalikan cadangan air di seluruh wilayah terdampak karhutla.

“Hari tanpa hujan (HTH) juga panjang kan, sehingga cadangan air makin tipis,” jelasnya.

Selain air, faktor cuaca juga menjadi tantangan bagi petugas. Angin yang bertiup kencang dan berubah arah pada siang hari dapat membuat pergerakan api sulit diprediksi.

“Angin kencang dan berubah-ubah arah juga kalau siang seperti ini,” ujarnya.

Situasi tersebut membuat petugas harus menyesuaikan strategi pemadaman di lapangan. Api yang sudah berhasil dikendalikan berpotensi kembali membesar ketika mendapat dorongan angin dan menemukan vegetasi kering.

Pemadaman dari udara yang selama ini menjadi salah satu dukungan dalam penanganan karhutla juga belum bisa dimanfaatkan secara maksimal di seluruh lokasi.

Kondisi jarak pandang yang rendah menjadi salah satu kendala pengerahan helikopter water bombing (WB). Pesawat tidak dapat bekerja optimal ketika kondisi udara di sekitar lokasi kebakaran menyulitkan operasi penerbangan.

“Sedangkan WB juga tidak bisa membantu optimal karena di beberapa lokasi jarak pandang rendah,” jelas Ferdian.

Dengan terbatasnya sumber air dari darat dan tidak optimalnya pemadaman udara di sejumlah titik, penanganan karhutla harus mengandalkan kombinasi strategi sesuai kondisi medan masing-masing.

Persoalan lain yang dihadapi petugas adalah munculnya kembali kebakaran di lokasi yang sebelumnya sudah pernah terbakar.

Salah satunya terjadi di Sungai Rambutan, Ogan Ilir. Tim Manggala Agni kembali melakukan penanganan di lokasi tersebut pada Senin pagi.

“Yang Sungai Rambutan, yang tadi pagi, kebakarannya di lokasi yang pernah terbakar sebelumnya,” ungkap Ferdian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

ISPA di Palembang Tembus 12 Ribu Kasus di September 2026

28 September 2026 - 15:29 WIB

Gandeng UMP, Ratu Dewa Kejar Target Tiap Sekolah Berguru S-2 dan Puskesmas Berdokter Spesialis

28 September 2026 - 12:10 WIB

Lantik Pengurus FUUU Bersama UAS, Ratu Dewa Ajak Warga Palembang Resapi Teladan Rasulullah

28 September 2026 - 12:07 WIB

APHI dukung Prabowo koreksi regulasi pembakaran lahan

26 September 2026 - 22:40 WIB

Punya Tunggakan Pajak Kendaraan? Sumsel Siapkan Skema Pemutihan

25 September 2026 - 18:50 WIB

Trending di News