PALEMBANG — Jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau di Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami penurunan signifikan. Dari sebelumnya sempat mencapai 2.500 titik dalam tujuh hari terakhir, jumlahnya kini tercatat 107 titik.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Muhammad Iqbal Alisyahbana, mengatakan penurunan tersebut sejalan dengan berkurangnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah.
“Alhamdulillah, titik hotspot sudah sangat jauh berkurang dibandingkan tujuh hari terakhir. Sebelumnya pernah mencapai 2.500 titik dan hari ini ada 107 titik,” ujar Iqbal, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari kerja sama satuan tugas (satgas) gabungan yang melakukan pemadaman di darat dan udara. Upaya penanganan juga diperkuat melalui operasi modifikasi cuaca (OMC), baik menggunakan natrium klorida (NaCl) maupun dry ice.
Iqbal menyebut hujan yang turun dalam dua hingga tiga hari terakhir membantu upaya pemadaman karhutla di sejumlah daerah, termasuk Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Muara Enim.
“Berdasarkan laporan yang diterima, kebakaran di wilayah Gelumang, Kabupaten Muara Enim, telah padam setelah kawasan tersebut diguyur hujan,”kata dia.
Meski demikian, penanganan belum sepenuhnya selesai. Sejumlah kecamatan di OKI masih mengalami kebakaran yang menghasilkan asap sehingga membutuhkan penanganan lanjutan.
“Beberapa wilayah sudah mengalami hujan dengan intensitas ringan, sedang, hingga lebat. Tadi pagi kami mendapat laporan bahwa kebakaran di Belumang sudah padam karena hujan,” katanya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan OMC turut memanfaatkan pertumbuhan awan yang tersedia untuk membantu memicu hujan di wilayah terdampak karhutla. Karena itu, efektivitas operasi tersebut bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan.
“Kami juga mengikuti informasi prakiraan cuaca dari BMKG mengenai potensi pertumbuhan awan hingga 2–3 November untuk mendukung upaya penanganan kebakaran,”kata dia.
Selain penurunan hotspot, kualitas udara di Sumsel juga menunjukkan perbaikan. Iqbal mengatakan, empat hari sebelumnya kualitas udara masih berada dalam kategori berbahaya, sedangkan saat ini telah turun menjadi kategori tidak sehat.
“Perubahan tersebut menunjukkan kondisi udara mulai membaik, meskipun belum sepenuhnya kembali normal,”kata dia.
Dirinya berharap hujan terus terjadi di wilayah yang masih mengalami kebakaran sehingga dapat membantu pemadaman dan mengurangi asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Namun, masyarakat tetap diminta waspada karena masih terdapat titik kebakaran di sejumlah wilayah.
“Penanganan karhutla pun terus dilakukan melalui koordinasi antarpemangku kepentingan, termasuk satgas darat, satgas udara, dan instansi yang mendukung operasi modifikasi cuaca,”kata dia.









