PALEMBANG — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) diharapkan tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah meluas. Upaya pencegahan sejak dini perlu diperkuat agar kebakaran dan kabut asap pada musim kemarau berikutnya dapat ditekan.
Anggota Komisi I DPR RI, Yudha Novanza Utama, mendorong pemerintah menyiapkan langkah antisipasi sejak awal tahun, termasuk memanfaatkan teknologi untuk mencegah munculnya titik api.
Hal itu disampaikannya saat mengunjungi Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan moril kepada petugas dan relawan yang masih terlibat dalam penanganan karhutla.
Menurut Yudha, upaya penanganan yang dilakukan BPBD bersama satuan tugas (satgas), relawan, dan unsur terkait selama beberapa bulan terakhir telah berjalan maksimal. Dampak operasi modifikasi cuaca (OMC) dan penyemaian bahan untuk memicu hujan juga mulai terlihat dalam sepekan terakhir.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penanganan karhutla belum dapat dinyatakan selesai sepenuhnya selama kondisi hujan alami belum merata dan potensi kebakaran masih ada.
“Alhamdulillah, seminggu terakhir mulai kelihatan dampaknya, mulai dari operasi OMC hingga penebaran bahan untuk memicu hujan. Kita berharap kondisi ini segera berakhir dan benar-benar selesai,” ujarnya, Rabu (28/10/2026).
Yudha menilai pengalaman menghadapi karhutla tahun ini harus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk memperkuat strategi pencegahan pada tahun mendatang.
Ia mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah provinsi, TNI, serta instansi terkait agar mulai menyiapkan langkah antisipasi jauh sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.
Menurutnya, anggaran dan teknologi penanganan bencana perlu dimanfaatkan sejak dini sehingga pemerintah tidak hanya mengerahkan sumber daya dalam jumlah besar ketika kebakaran sudah terjadi.
“Ke depan, kita dorong agar anggaran yang dimiliki digunakan untuk pencegahan, bukan seperti sekarang, setelah terbakar baru bekerja,” kata Yudha.
Ia berharap langkah pencegahan dapat mulai diupayakan sejak Maret. Dengan persiapan lebih awal, pemantauan wilayah rawan dan langkah antisipasi dapat dilakukan sebelum memasuki periode kemarau panjang.
“Saya menilai strategi tersebut penting untuk menekan potensi munculnya titik api sekaligus mengurangi risiko kabut asap yang berdampak pada kesehatan dan aktivitas masyarakat,”kata dia.
Selain memberikan dukungan moril, Yudha juga menyalurkan bantuan uang tunai sebesar Rp50 juta bagi relawan dan petugas yang terlibat dalam penanganan karhutla di Sumsel.
Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap para relawan yang berada di garis depan penanganan kebakaran.
Bantuan tersebut disalurkan untuk lima posko, yakni Posko Jakabaring, Posko Kertapati, Posko Palem di wilayah Ogan Ilir, Posko Induk, dan Posko Sematang Borang.
Sebelumnya, Yudha mengaku telah ikut memberikan dukungan berupa tenda, sembako, dan perlengkapan lainnya. Kali ini, bantuan tunai diharapkan dapat menambah semangat para relawan dalam menjalankan tugas hingga penanganan karhutla benar-benar berakhir.
“Saya berharap dukungan tersebut dapat membantu menjaga semangat petugas dan relawan yang masih bekerja di tengah kondisi karhutla,”kata dia.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Muhammad Iqbal Alisyabanah menyambut baik kunjungan anggota Komisi I DPR RI, Yudha Novanza Utama, ke Kantor BPBD Sumsel sebagai bentuk dukungan moril bagi petugas.
“Pak Yudha telah beberapa kali memberikan dukungan sejak Juni, mulai dari pengarahan dan masukan hingga bantuan peralatan, masker, dan vitamin bagi petugas di lapangan,”kata dia.
Dalam kunjungan terbaru, bantuan kembali diberikan untuk mendukung operasional relawan dan satgas yang bertugas menangani karhutla.
“Dukungan tersebut membantu menjaga semangat petugas yang berada di garis depan penanganan bencana,”kata dia.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, relawan, dan seluruh unsur terkait terus diperkuat sampai karhutla di Sumsel benar-benar terkendali.
“Meski jumlah hotspot dan kualitas udara menunjukkan perbaikan, saya menegaskan penanganan tetap berlanjut, terutama di daerah yang masih mengalami kebakaran dan mengeluarkan asap,”kata dia.








