Palembang– Dugaan kasus perundungan (bullying) dan kekerasan terhadap seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kota Palembang berujung laporan ke Polda Sumatera Selatan.
Seorang bocah di salah satu Sekolah Dasar di Palembang mengalami kekerasan pada saat ia sedang melerai temannya yang bertengkar. Naas, sang korban malah menjadi target kekerasan oleh temannya.
Hal tersebut membuat orang tua korban berinisial (DY) melaporkan kejadian ini ke Polda Sumsel.
MN selaku bibi dari korban mengungkapkan kejadian terjadi pada pukul 12.00 WIB saat pulang sekolah. Korban sedang melerai pertengkaran sang teman bernama Solih di sekolahnya.
Alih-alih melerai, korban malah menjadi target kekerasan oleh Solih dan dipukul olehnya. Merespon kekerasan tersebut, korban akhirnya membela dirinya yang berujung pada perkelahian.
Perkelahian tersebut pada akhirnya sempat mereda, namun saat sepulang sekolah, Solih mengadu ke ayahnya, Hasbiyansyah, yang datang untuk menjemput dirinya.
Tak terima Solih bertengkar, Hasbiyansyah menyuruh anaknya untuk memukuli korban lagi di depan banyak orang.
“Ayahnya datang dan menyuruh anaknya memukuli korban sambil mengatakan “incar kepalanya” sehingga korban mengalami pukulan berkali-kali ke arah belakang kepalanya,” ujar MN.
Akibatnya, Solih memukul korban hingga mengalami luka dibagian lengan kiri dan merah di dadanya serta sakit di belakang kepala yang mengharuskannya untuk observasi dan rawat jalan di rumah sakit.
Kemudian MN juga mengatakan bahwa pada saat itu Hasbiyansyah terus mengintimidasi korban walaupun sang orang tua korban telah datang.
“Sampai orang tua korban datang, terlapor tetap meneriaki korban dan ibunya,” kata MN.
Kemudian, korban juga mengalami trauma dan tidak mau bersekolah atas kejadian di lingkungan tersebut.
Selain itu, orang tua korban juga menyayangkan pihak keamanan sekolah yang tidak ada pada saat kejadian dan tidak satu pun orang di lingkungan tersebut yang melerai pertengkaran itu.
MN mengaku, sempat ada mediasi bersama orang tua terlapor, namun sayangnya orang tua terlapor tidak mengakui kesalahannya dan pihak sekolah diduga tidak terbuka dalam menangani persoalan tersebut.
“Kami menilai pihak sekolah terkesan menutupi kejadian ini dan ada upaya intervensi terhadap korban,” ujar MN.
Sebelum berita ini di turunkan diketahui pihak terlapor juga mengutus sebuah media online utk mengintervensi.
MN menambahkan, keluarga korban berharap kasus ini dapat diusut secara objektif oleh aparat penegak hukum. Ia juga meminta pihak sekolah memberikan perlindungan kepada seluruh peserta didik serta tidak melakukan tekanan terhadap korban maupun keluarganya.
“Kami berharap proses hukum berjalan transparan. Yang paling penting adalah perlindungan terhadap anak dan pemulihan kondisi psikologis korban,” tegasnya.









