PALEMBANG — Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah di Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi harapan baru dalam menekan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah Provinsi Sumsel menyebut operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya untuk memaksimalkan potensi hujan di tengah ancaman kebakaran yang masih membayangi.
Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, penyemaian bahan untuk modifikasi cuaca masih dilakukan hingga sehari sebelum pernyataannya disampaikan. Menurut dia, langkah tersebut bertujuan membantu memicu turunnya hujan dengan memanfaatkan awan yang mengandung uap air.
“Alhamdulillah, Tuhan memberkahi langkah ini dan hujan hampir merata. Nyatanya, dua hotspot,” ujar Deru, Senin (26/10/2026).
Deru menjelaskan, pelaksanaan OMC dilakukan dengan mengerahkan dua pesawat Hercules yang setiap hari menaburkan bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) atau garam. Upaya itu, kata dia, masih berlangsung hingga sehari sebelumnya untuk memaksimalkan potensi hujan di Sumsel.
Ia juga menyinggung penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kandungan uap air di atmosfer saat kabut asap menyelimuti wilayah Sumsel. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaan modifikasi cuaca.
Baginya, turunnya hujan dan berkurangnya jumlah titik panas menjadi perkembangan yang patut disyukuri. Namun, ia menegaskan bahwa berbagai upaya manusia tetap berjalan berdampingan dengan kehendak Tuhan.
“Jadi, apa pun upaya kita, tetap ini kehendak Allah,” katanya.
Meski hujan mulai turun, penanganan karhutla tetap membutuhkan pemantauan terhadap titik panas dan kondisi lahan, terutama di wilayah yang rawan terbakar. Hujan yang turun di sejumlah daerah juga belum otomatis memastikan seluruh titik kebakaran padam.









