Kondisi tersebut sejalan dengan pemantauan kualitas udara Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang yang kembali menunjukkan angka tinggi. Padahal, dalam beberapa hari sebelumnya kualitas udara sempat berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan, kualitas udara Palembang mulai memburuk sejak dini hari. Bahkan, konsentrasi PM2.5 sempat kembali masuk kategori berbahaya.
“Kualitas udara pada dini hari sempat masuk kategori berbahaya dengan angka PM2.5 sebesar 264,5 µg/m³ pukul 01.00 WIB,” ujar Wandayantolis, Jumat (25/9/2026).
Angka tersebut kemudian berangsur turun pada pagi hari. Namun, penurunan konsentrasi partikulat belum cukup untuk membuat kualitas udara kembali aman.
“Tapi, angkanya masih tetap di atas 200 µg/m³ atau sangat tidak sehat,” jelasnya.
Hingga pukul 09.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat 162,4 µg/m³. Angka tersebut masih berada pada kategori merah atau sangat tidak sehat.
Wandayantolis menyebut kondisi udara Palembang tidak terlepas dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan sekitarnya.
“Karhutla di OKI dan sekitarnya masih menjadi penyebab asap,” tambahnya.
Kondisi ini membuat turunnya hujan belum serta-merta membuat udara Palembang bersih. Asap dari wilayah yang masih mengalami karhutla tetap menjadi persoalan, terutama ketika konsentrasi partikulat kembali meningkat.
“Data hotspot yang dipantau juga menunjukkan aktivitas kebakaran masih cukup tinggi. Hingga pemantauan tersebut, tercatat 394 hotspot di sejumlah wilayah Sumsel,”kata dia.
OKI menjadi penyumbang hotspot terbanyak dengan 335 titik. Berikutnya Banyuasin 33 titik, Musi Banyuasin 7 titik, Musi Rawas 7 titik, Muara Enim 4 titik, Musi Rawas Utara 4 titik, PALI 2 titik, serta Ogan Ilir 1 titik.
Dirinya pun mengingatkan masyarakat tidak hanya mengandalkan kondisi cuaca, termasuk hujan, untuk menentukan aman atau tidaknya aktivitas di luar ruangan.
Masyarakat diminta tetap memantau perkembangan kualitas udara sebelum beraktivitas di luar rumah. Penggunaan masker juga dianjurkan karena konsentrasi PM2.5 masih berada pada level tinggi.
“Meski konsentrasi PM2.5 sudah turun dari kondisi puncaknya, levelnya masih cukup tinggi. Masyarakat tetap perlu berhati-hati dan membatasi paparan udara luar apabila kualitas udara kembali memburuk,” tukasnya.









