Palembang – Pemerintah pusat meminta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) dipercepat dengan mengubah pola pengerahan personel dan peralatan. Kekuatan pemadaman akan dipusatkan di wilayah yang masih membutuhkan penanganan besar.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) RI Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago mengatakan, strategi tersebut diperlukan karena masih terdapat sekitar 400 hektare lahan yang menjadi fokus penanganan setelah operasi pemadaman sebelumnya.
Menurutnya, kekuatan yang dimiliki Kodam, Polda, dan pemerintah daerah cukup untuk menangani kondisi tersebut, namun pengerahannya harus dilakukan secara terukur.
“Kita anggap ini harus bisa selesai dengan waktu cepat. Kekuatannya memadai yang dimiliki oleh Kodam dan Polda dan Pemda,” kata Djamari saat meninjau Posko Satgas Karhutla di Kantor Camat Kertapati, Palembang, Jumat (18/9/2026).
Djamari menjelaskan, personel dalam jumlah besar akan ditempatkan di wilayah yang memiliki kebutuhan penanganan lebih tinggi. Sebaliknya, kekuatan di daerah yang kondisinya mulai terkendali dapat digeser untuk membantu lokasi lain.
“Pengerahan kekuatan itu nanti dipilihkan di mana tempat konsentrasi pasukan yang besar, di mana yang kita kurangi pasukannya untuk ditempatkan di tempat yang lain,” ujarnya.
Pola tersebut diharapkan membuat operasi lebih efektif karena personel dan peralatan tidak tersebar terlalu luas, sementara lokasi yang masih terbakar dapat segera dikejar.
Laporan operasi menunjukkan, dari estimasi sekitar 639 hektare lahan terbakar, sebanyak 210 hektare telah ditangani melalui pemadaman darat dan 26 hektare melalui operasi water bombing.
Dengan demikian, masih terdapat sekitar 400 hektare yang menjadi perhatian untuk segera ditangani.
Di sisi lain, Danrem 044/Garuda Dempo (Gapo) Brigjen TNI Khabib Mahfud melaporkan masih tingginya aktivitas hotspot di Sumsel.
Berdasarkan pembaruan data pada Jumat (18/9/2026) pukul 05.00 WIB, tercatat sekitar 1.042 hotspot. Hotspot terbanyak berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin, dan Muara Enim.
Khabib menyebut jumlah hotspot sepanjang September meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Agustus tercatat sekitar 17.088 titik, sedangkan September telah mencapai 51.874 titik.
Meski demikian, dalam beberapa hari terakhir terdapat penurunan jumlah hotspot harian.
“Selasa kemarin terjadi puncak 4.170 titik, sedangkan hari ini 1.042 titik,” katanya.









