PALEMBANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Dalam satu bulan, luasan lahan terbakar melonjak lebih dari 1.200 hektare, di tengah kondisi kemarau yang semakin kering dan keterbatasan sumber air untuk pemadaman.
Data Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla di Sumsel sepanjang Januari-Juli 2026 telah mencapai 1.926,2 hektare. Padahal, hingga Juni luas lahan yang terbakar baru mencapai 664,8 hektare.
Artinya, dalam periode Juli saja terjadi tambahan sekitar 1.261,4 hektare lahan terbakar.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengatakan data tersebut merupakan hasil analisis citra satelit hasil kerja sama Kemenhut dan BRIN.
“Luas karhutla Sumsel hingga Juli 2026 mencapai 1.926,2 hektare. Dari total luasan karhutla tersebut, sebanyak 1.857,7 hektare terjadi di lahan mineral dan 68,5 hektare di lahan gambut,” ujar Ferdian, Sabtu (15/8/2026).
Lonjakan tersebut membuat kondisi karhutla Sumsel pada 2026 sudah melampaui luasan kebakaran pada periode yang sama dalam tiga tahun terakhir.
Sebagai pembanding, luasan karhutla pada 2023 tercatat 1.178,5 hektare, kemudian 963,1 hektare pada 2024 dan 1.382,4 hektare pada 2025.
Sementara pada 2022, luasan karhutla bahkan mencapai 2.445,7 hektare.
Dengan capaian 1.926,2 hektare hingga Juli, Sumsel kini sudah berada pada level yang jauh lebih tinggi dibandingkan tiga tahun terakhir dan hanya terpaut sekitar 519,5 hektare dari total luasan sepanjang 2022.
Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar di Sumsel. Hingga Juli, lahan terbakar di daerah tersebut mencapai 516 hektare.
Selanjutnya Banyuasin dengan 274,4 hektare, termasuk 17,5 hektare lahan gambut, disusul Ogan Ilir 272,5 hektare dan Ogan Komering Ilir (OKI) 230,3 hektare.
Musi Banyuasin (Muba) mencatat luasan 228 hektare, dengan 29,1 hektare di antaranya berada di lahan gambut.
Kemudian Muara Enim mencapai 141,9 hektare dan Musi Rawas Utara (Muratara) 111,9 hektare, termasuk 19,9 hektare lahan gambut.
Karhutla juga tercatat di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) seluas 57,4 hektare, OKU Selatan 55,2 hektare, OKU Timur 23,2 hektare, Prabumulih 7,3 hektare, Lahat 6 hektare, Palembang 1,5 hektare dan Musi Rawas 0,6 hektare.
Sementara tiga daerah, yakni Lubuklinggau, Pagar Alam dan Empat Lawang, tercatat belum memiliki luasan karhutla berdasarkan analisis tersebut.
Ferdian mengatakan peningkatan luasan karhutla menjadi peringatan penting karena Sumsel kini memasuki periode puncak musim kemarau.
Agustus hingga September diperkirakan menjadi periode yang paling rawan. Kondisi lapangan juga semakin menyulitkan upaya pemadaman karena sumber air mulai terbatas.
“Tentunya ini menjadi warning penting. Peningkatan signifikan dan ancaman ke depan dapat terjadi seiring dengan puncak musim kemarau yang terjadi Agustus-September,” katanya.
Persoalan lain muncul dari upaya modifikasi cuaca atau operasi modifikasi cuaca (OMC). Hujan yang diharapkan dapat membantu membasahi lahan dan menekan potensi kebakaran belum sesuai target.
“Kondisi di lapangan semakin susah air dan OMC juga tidak sesuai target, karena tidak ada awan potensial di musim kemarau,” jelas Ferdian.









